Minggu, 28 Agustus 2011

Air Kehidupan

Segala sesuatu,
terkecuali cinta kepada yang Maha Indah,
walaupun tampak manis bagai gula,
sebenarnya membuat jiwa menderita.

Apakah itu penderitaan jiwa?
Menyongsong kematian seraya tidak menggenggam
Air Kehidupan.

Umumnya manusia, menancapkan pandangan ke dua mata
mereka kepada bumi dan kematian: seraya mereka
menyimpan seratus keraguan tentang Air Kehidupan.

Berjuanglah sehingga seratus keraguanmu berkurang
jadi sembilan puluh: bergeraklah maju kepada Allah
pada malam harinya alam ini; karena jika engkau tertidur,
sang malam lah yang akan meninggalkanmu.

Di tengah gelapnya malam, carilah Siang yang terang:
ikutilah Akal Sejati yang menelan kegelapan.

Di balik hitamnya jubah malam, yang sewarna kejahatan, terdapat
banyak kebaikan: Air Kehidupan itu pasangan kegelapan.

Tapi bagaimana mungkin mengangkat kepalamu dari beratnya
kantuk, ketika engkau tebarkan seratus benih kemalasan.

Jika mendengkur bagaikan mati,
dan matinya makanan yang haram dijadikan sahabat,
maka engkau bagaikan pedagang yang tertidur,
sementara sang malam menjadi pencuri
yang membuatmu bangkrut.

(Rumi)

Cahaya dan Kegelqapan

Cahaya menjadikan warna-warna nyata:
malam membuat merah, hijau dan kecoklatan sirna dari mata.

Cahaya, oleh kegelapan, diperkenalkan padamu.
Segala yang tak terlihat, oleh lawannya, ditampakkan untukmu.

Allah, ahad tanpa lawan, maka
Bagi-Nya segala sesuatu terlihat,
namun Dia tak akan pernah dilihat.

Dari gelapnya belantara
tempat singa terlihat mata
jadilah jiwa tak terlihat
yang melompat ke dalam cahaya.
          (Rumi)

IBUMU MALAIKATMU

       Sesaat sebelum bayi dilhirkan, Sang Bayi bertanya pada Allah SWT.
Bayi:"Para malaikat di sini mengatakan
bahwa besok Engkau akan mengirimku ke dunia, tetapi bagaimana cara saya hidup di
sana, saya begitu kecil dan lemah?, kata si bayi.

Tuhan menjawab, "Aku telah memilih satu malaikat untukmu, ia akan menjaga dan
mengasihimu."

Bayi:"Tapi di surga, apa yang saya lakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa,
ini cukup bagi saya untuk bahagia." Demikian kata si bayi.

Tuhanpun menjawab, "Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari,
dan kamu akan merasakan kehangatan cintanya dan jadi lebih berbahagia."

Bayi:"Dan bagaimana saya bisa mengerti saat orang-orang
berbicara jika saya tidak mengerti bahasa mereka?".

Tuhan menjawab, "Malaikatmu akan berbicara kepadamu dengan bahasa
yang paling indah yang pernah kamu dengar, dan dengan penuh kesabaran dan
perhatian dia akan mengajarkan bagaimana cara kamu berbicara."

Bayi:"Dan apa yang dapat saya lakukan saat saya
ingin berbicara kepada-Mu?"

Tuhan menjawab:"Malaikatmu akan mengajarkan bagaimana cara kamu berdoa."

Bayi:"Saya mendengar bahwa di bumi banyak orang jahat, siapa yang akan melindungi saya?

Tuhanpun menjawab, "Malaikatmu akan melindungimu, dengan taruhan jiwanya sekalipun."

Bayi:"TAPI SAYA AKAN BERSEDIH KERNA TIDAK MELIHAT ENGKAU LAG."

Dan Tuhanpun menjawab, "Malaikatmu akan menceritakan kepadamu tentang Aku,
dan akan mengajarkan bagaimana agar kamu bisa kembali kpada-Ku, walaupun
sesungguhnya Aku selalu berada di sisimu."

Saat itu surga begitu tenangnya, sehingga suara dari bumi dapat terdengar dan
sang anak dengan suara lirih bertanya, "Tuhan, jika saya harus pergi sekarang,
bisakah Engkau memberitahu siapa nama malaikat di rumahku nanti?"

Tuhanpun menjawab, "Kamu dapat memanggil malaikatmu... IBU ..."

sumber : unidentified

MAWAR UNTUK IBU

        Seorang pria berhenti di toko bunga untuk memesan seikat karangan bunga yang akan dipaketkan pada sang ibu yang tinggal jauh 250 km darinya. Begitu keluar dari mobilnya, ia melihat seorang gadis kecil berdiri trotoar jalan sambil menangis tersedu-sedu.

Pria itu menanyainya kenapa dan dijawab oleh gadis kecil,
"Saya ingin membeli setangkai bunga mawar merah untuk ibu saya. Tapi saya cuma punya uang lima ratus saja, sedangkan harga mawar itu seribu."

Pria itu tersenyum dan berkata, "Ayo ikut, aku akan membelikanmu bunga yang kau mau."
Kemudian ia membelikan gadis kecil itu setangkai mawar merah, sekaligus memesankan karangan bunga untuk dikirimkan ke ibunya.

Ketika selesai dan hendak pulang, ia menawarkan diri untuk mengantar gadis kecil itu pulang ke rumah. Gadis kecil itu melonjak gembira, katanya, "Ya tentu saja. Maukah anda mengantarkan ke tempat ibu saya?"

Kemudian mereka berdua menuju ke tempat yang ditunjukkan gadis kecil itu, yaitu pemakaman umum, dimana lalu gadis kecil itu meletakkan bunganya pada sebuah kuburan yang masih basah.

Melihat hal ini, hati pria itu menjadi trenyuh dan teringat sesuatu. Bergegas, ia kembali menuju ke toko bunga tadi dan membatalkan kirimannya.

Ia mengambil karangan bunga yang dipesannya dan mengendarai sendiri kendaraannya sejauh 250 km menuju rumah ibunya.

(diadaptasi dari: Rose for Mama, C.W. McCall)