https://www.lazada.co.id/shop/tarako-shop
Anak Negeri Berkarya Seakan Hidup Selamanya, Beramal Shalih Seakan Mati Esok Hari
Rabu, 15 September 2021
Sabtu, 10 Maret 2012
Engkau Lebih Dekat Daripada Urat Leherku Sendriri
Ya Rabbi,
Engkau lebih dekat denganku daripada diriku sendiri,
Engkau bersinar melalui mata.
Engkau adalah cahaya terang bulan.
Sehingga semua bunga-bunga dalam kebun yang terindah,
Berlutut di depan keindahaMU.
Biarkan suaraMU hening seribu bahasa, hanya ruh yang mendengar.
KebaikanMU lebih lembut dari jiwa, tetapi hukumMu begitu dingin dan kasar.
Wahai saudara, engkau boleh jadi liar dan memberontak,
tapi saat engkau bertemu muka denganNYA,
pesonanya akan membuat engkau jinak seperti bumi.
Membuang perisai dan telanjang dada tidak ada perlindungan kuat dariNYA.
Itu sebabnya ketika sufi menjad zuhud,
ia menutupi semua celah di dinding,
sehingga cahaya luar tidak bisa masuk sedikitpun.
Dia tahu bahwa hanya cahaya batin menerangi dunianya.
Engkau bersinar melalui mata.
Engkau adalah cahaya terang bulan.
Sehingga semua bunga-bunga dalam kebun yang terindah,
Berlutut di depan keindahaMU.
Biarkan suaraMU hening seribu bahasa, hanya ruh yang mendengar.
KebaikanMU lebih lembut dari jiwa, tetapi hukumMu begitu dingin dan kasar.
Wahai saudara, engkau boleh jadi liar dan memberontak,
tapi saat engkau bertemu muka denganNYA,
pesonanya akan membuat engkau jinak seperti bumi.
Membuang perisai dan telanjang dada tidak ada perlindungan kuat dariNYA.
Itu sebabnya ketika sufi menjad zuhud,
ia menutupi semua celah di dinding,
sehingga cahaya luar tidak bisa masuk sedikitpun.
Dia tahu bahwa hanya cahaya batin menerangi dunianya.
Minggu, 26 Februari 2012
TENTANG SEMBAHYANG (SHALAT)
Tiang sembahyang itu ada 3 perkara :
Siapa yang sembahyang ? Yang sebahyang Syarat dg rukun.
Apa yang dipersembahkan ? Yang dipersembahkan adalah 3 katagori rukun sembahyang :
A. Rukun Qalbi yaitu 2 perkara : 1. Niat
2. Tertib
B. Rukun Fikli yaitu 5 perkara : 1. Takbiratul ihram
2. Membaca Fatihah
3. Tahyat akhir
4. Shalawat akan Nabi saw.
5. Salam pertama
C. Rukun Zikri yaitu 6 perkara : 1. Berdiri betul
2. Rukuk
3. I'tidal
4. Sujud
5. Duduk antara dua sujud
6. Duduk yang berkemudian
Keterangan Orang Yg Meringan-ringankan Sembahyang
Sabda Nabi SAW : Adapun siksa bagi orang yang meringan-ringankan sembahyang ada 15 perkara,
terdiri dari : -) 6 diatas dunia.
- ) 3 waktu akan mati
-) 3 waktu didalam kubur
-) 3 di Padang Masyar
Adapun yang 6 diatas dunia yaitu :
- Khusuk , yang artinya adalah tetap hati akan Allah ta'ala
- Tawaduk , yang artinya adalah meendahkan diri kepada Allah ta'ala
- Kira'at , yang artinya adalah menentukan fardu dg sunat, ash dg batal, zahir dan batin
- Masuk serta berilmu
- Berdiri serta membesarkan
- membayar serta malu
- Keluar seta takut
Siapa yang sembahyang ? Yang sebahyang Syarat dg rukun.
Apa yang dipersembahkan ? Yang dipersembahkan adalah 3 katagori rukun sembahyang :
A. Rukun Qalbi yaitu 2 perkara : 1. Niat
2. Tertib
B. Rukun Fikli yaitu 5 perkara : 1. Takbiratul ihram
2. Membaca Fatihah
3. Tahyat akhir
4. Shalawat akan Nabi saw.
5. Salam pertama
C. Rukun Zikri yaitu 6 perkara : 1. Berdiri betul
2. Rukuk
3. I'tidal
4. Sujud
5. Duduk antara dua sujud
6. Duduk yang berkemudian
Keterangan Orang Yg Meringan-ringankan Sembahyang
Sabda Nabi SAW : Adapun siksa bagi orang yang meringan-ringankan sembahyang ada 15 perkara,
terdiri dari : -) 6 diatas dunia.
- ) 3 waktu akan mati
-) 3 waktu didalam kubur
-) 3 di Padang Masyar
Adapun yang 6 diatas dunia yaitu :
- Tidak diberkati Allah ta'ala akan umurnya
- Dicabut tanda mukmin dimukanya
- Tidak diterima segala amal ibadahnya
- Ditolak segala do'anya
- Di luar do'a segala orang mukmin
- Mati tanggal iman.
- Mati dalam kehinaan
- Mati dalam kelaparan
- Mati dalam kehausan
- Disempitkan kuburnya
- Dinyalakan api di bawahnya
- Ditanya malaikat siang dan malam sampai hari kiamat
- Dikeluarkan dari kuburnya, dirantai lehernya, dimasukkan ke mulutnya, dikeluarkan pada duburnya, ditembuskan di dadanya, ditarik pada belikatnya.
- Diberikan siksa sebesar-besar siksa baginya
- Tidak diberi nikmat akan dia walau sebesar zarahpun.
Sabtu, 31 Desember 2011
Bersyair Itu Dilarang, Benarkah ?
Oleh karena saya senang membaca syair dari berbagai penyair handal, terutama syair yang bernuansa sufistik, dan sayapun senang membuat syair, maka saya menjadi gelisah ketika disampaikan pada saya sebuah hadist : Lambung seseorang penuh dengan nanah lebih baik daripada penuh dengan syair”. H.r. Abu Daud.
Bagaimana sebetulnya hukum bersyair dalam Islam . Dalam Islam terdapat dua bentuk penjelasan tentang kedudukan syair. Ada teks yang menjelaskan tentang kebolehannya dan adapula yang mencelanya. Berikut beberapa teks hadis yang menjelaskan kebolehan syair dan bersyair:
عَنْ عَمْرِو بْنِ الشَّرِيدِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ رَدِفْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمًا فَقَالَ هَلْ مَعَكَ مِنْ شِعْرِ أُمَيَّةَ بْنِ أَبِى الصَّلْتِ شَيْئًا قُلْتُ نَعَمْ قَالَ: هِيهِ فَأَنْشَدْتُهُ بَيْتًا فَقَالَ: هِيهِ ثُمَّ أَنْشَدْتُهُ بَيْتًا فَقَالَ: هِيهِ حَتَّى أَنْشَدْتُهُ مِائَةَ بَيْتٍ
Artinya: Dari Amru bin al-Syarid dari Ayahnya, ia berkata, “Suatu ketika aku bersama Rasulullah saw, kemudian beliau berkata, ‘Apakah kamu mengetahui beberapa (bait) dari syair karya Umayyah bin ash-Shalt?’ Aku menjawab, ‘Ya’. Beliau berkata, ‘lantunkanlah!’, kemudian aku melantunkan satu bait. Beliau berkata, ‘lanjutkan’ kemudian aku melantunkan satu bait. Beliau berkata, ‘lanjutkan’. Hingga aku melantunkan 100 bait (syair)” H.r. Muslim Selain riwayat di atas terdapat pula keterangan lain sebagaimana diriwayatkan oleh al-Tirmidzi sebagai berikut:
عن أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ مَكَّةَ فِي عُمْرَةِ الْقَضَاءِ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَوَاحَةَ بَيْنَ يَدَيْهِ يَمْشِي وَهُوَ يَقُولُ خَلُّوا بَنِي الْكُفَّارِ عن سَبِيلِهِ الْيَوْمَ نَضْرِبْكُمْ عَلَى تَنْزِيلِهِ ضَرْبًا يُزِيلُ الْهَامَ عن مَقِيلِهِ وَيُذْهِلُ الْخَلِيلَ عن خَلِيلِهِ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ يَا ابْنَ رَوَاحَةَ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي حَرَمِ اللَّهِ تَقُولُ الشِّعْرَ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَلِّ عَنْهُ يَا عُمَرُ فَلَهِيَ أَسْرَعُ فِيهِمْ مِنْ نَضْحِ النَّبْلِ
Artinya: Dari Anas Bahwasanya Rasulullah Saw masuk ke Makkah pada masa umrah Qadha dan Abdullah bin Rawahah sedang berjalan di depan beliau sambil berkata : “Berikan jalan kepada anak orang-orang kafir # Hari ini kami akan memukul kalian dirumah kalian # Dengan pukulan yang menghilangkan kesedihan dari peraduannya # Dan menjauhkan seorang kekasih dari kekasihnya. Umar kemudian berkata kepadanya : ‘wahai Ibnu Rawahah dihadapan Rasulullah Saw dan didalam masjid al-haram kamu melantunkan syair?’ kemudian Nabi Saw berkata kepada Umar : “Biarkan dia wahai Umar sebab hal itu lebih mempercepat dari siraman yang baik” Dalam riwayat yang lain Rasulullah Saw memuji syair salah seorang sahabat yang bernama Labid bin Rabi’ah:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَصْدَقُ كَلِمَةٍ قَالَهَا الشَّاعِرُ كَلِمَةُ لَبِيدٍ: أَلَا كُلُّ شَيْءٍ مَا خَلَا اللهَ بَاطِلُ وَكَادَ ابْنُ أَبِي الصَّلْتِ يُسْلِمُ
Artinya: Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallhu ‘alaihi wa sallam beliau berkata : “Kalimat yang paling benar yang diucapkan oleh penyair adalah kalimat Labid: “Ketahuilah segala sesuatu yang selain Allah adalah bathil (rusakn dan binasa)”. Dan hampir saja Umayyah bin Abu al-Shalt memeluk Islam”. H.r. At-Thahawi Dalam riwayat lain Rasulullah Saw mengemukakan bahwasanya terdapat kandungan hikmah dibalik bait-bait syair sebagaimana sabda Beliau Saw: عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : إِنَّ مِنَ الشِّعْرِ حِكْمَةً Artinya : Dari Ibnu Abas, ia berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya terdapat hikmah diantara (bait-bait) syair’.” H.r. Al-Baihaqi Adapun hadis yang menerangkan akan ketidakbolehan syair dan bersyair adalah :
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لأَنْ يَمْتَلِئَ جَوْفُ أَحَدِكُمْ قَيْحًا خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمْتَلِئَ شِعْرًا
Artinya: Dari Abu Huraerah, ia berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Lambung seseorang penuh dengan nanah lebih baik daripada penuh dengan syair’.” H.r. Abu Daud B. Pemahaman Hadis-hadis Syair Dari beberapa teks hadis di atas menunjukkan terjadinya kontroversi tentang hukum syair. Di satu sisi Rasulullah saw membenarkan dan menyuruh sebahagian dari sahabat beliau untuk melantunkan syair, bahkan beliau sendiri melantunkan syair sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad dan al-Tirmidzi :
عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ شُرَيْحٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قُلْتُ لِعَائِشَةَ هَلْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَمَثَّلُ الشِّعْرَ قَالَتْ رُبَّمَا تَمَثَّلَ شِعْرَ ابْنِ رَوَاحَةَ وَيَقُولُ وَيَأْتِيكَ بِالْأَخْبَارِ مِنْ لَمْ تُزَوِّدِ
Artinya: Dari al-Miqdam bin Syureh, dari Ayahnya, ia berkata, “Aku bertanya kepada Aisyah: ‘Apakah Rasulullah Pernah melantunkan syair?’ Aisyah menjawab, ‘Beliau pernah melantunkan Syair Ibnu Rawahah dan beliau melantunkan: ‘Dan akan datang kepadamu berita dari yang tidak kamu sangka’.” Namun pada sisi yang lain Rasulullah saw melarang untuk bersyair sebagaimana sabda beliau Saw :
لأَنْ يَمْتَلِئَ جَوْفُ أَحَدِكُمْ قَيْحًا خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمْتَلِئَ شِعْرًا » - رواه أبو داود –
Artinya: “Lambung seseorang penuh dengan nanah lebih baik daripada penuh dengan syair”. H.r. Abu Daud
Ketika melihat hadis kedua tentang pelarangan bersyair secara zahir, maka akan ditemukan pelarangan untuk bersyair secara mutlak, sebab Rasulullah Saw menyebutkan bahwa “perut seseorang dipenuhi oleh nanah (yang dapat merusaknya) lebih baik daripada dipenuhi oleh syair”. Atas dasar ini beberapa ulama melarang syair secara mutlak berdasarkan hadis tersebut.
Imam Ibnu Hajar berkata: “Para ulama terdahulu berbeda pendapat tentang apabila isi sebuah kitab seluruhnya adalah syair, Al-Sya’bi berpendapat bahwa hal tersebut (kitab dipenuhi oleh syair) tidak boleh, dan al-Zuhry berpendapat bahwa telah menjadi sebuah sunnah terdahulu bahwa basmalah tidak boleh tercampur dengan syair, sementara Said bin Jubair dan Jumhur serta pilihan al-Khatib bahwa buku yang dipenuhi dengan syair dan basmalah tercampur dengan syair adalah boleh”
Sebenarnya hadis tentang pelarangan bersyair memiliki asabab al-wurud, sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim sebagai berikut:
عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ نَسِيرُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِاْلعَرْجِ إِذْ عَرَضَ شََاعِرٌ يُنْشِدُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-: خُذُوا الشَّيْطَانَ أَوْ أَمْسِكُوا الشَّيْطَانَ لأَنْ يَمْتَلِئَ جَوْفُ رَجُلٍ قَيْحًا خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمْتَلِئَ شِعْرًا
Artinya: DariAbu Said al-Khudri, ia berkata, “Ketika kami sedang berjalan bersama Rasulullah Saw di al-’Araj, tiba –tiba seorang penyair membacakan syair (kepada kami) Maka Rasulpun berkata: ‘Tahan syaitan itu, Lambung seseorang penuh dengan nanah lebih baik daripada penuh dengan syair”
Ibnu Baththal berkata: sebahagian ulama berpendapat bahwa syair yang dimaksud dalam hadis adalah syair-syair yang mengandung hujatan terhadap Rasulullah Saw. Akan tetapi Abu Ubaid secara pribadi berdasarkan kesepakatan ulama menganggap bahwa penafsiran tentang makna syair adalah penafsiran yang salah sebab kaum muslimin telah sepakat bahwa satu kalimat yang mengandung hujatan kepada Rasulullah Saw maka akan menjadikan kufur. Akan tetapi dikalangan sebagian ulama melarang syair dan bersyair secara mutlak. Hal tersebut didasarkan perkataan Rasulullah Saw : “tahan Syaitan itu” dan firman Allah yang Artinya: Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. (Q.S. al-Syu’ara’ : 224)
Berdasarkan ayat dan hadis tersebut mereka yang melarang syair secara mutlak menganggap bahwa syair dan bersyair merupkan pekerjaan syaitan yang sesat. Para ahli tafsir seperti al-Thabary berpendapat bahwa para ahli syair tersebut mengikuti jejak orang-orang yang sesat bukan jejak orang-orang yang mendapat petunjuk. Dan yang dimaksud dengan orang yang sesat menurut Ibnu Abbas adalah para pembuat syair dari kalangan orang-orang kafir dan yang lainnya berpendapat yang dimaksud dengan orang sesat adalah Syaitan. Ikrimah berkata bahwa suatu ketika terdapat dua ahli syair yang saling mencaci satu sama lain (dengan menggunakan syair), maka Allah menurunkan ayat ini (al-Syu’ara’:224).
Qatadah berpendapat bahwa para ahli syair memuji seseorang dengan hal-hal yang batil dan mencela dengan hal-hal yang batil pula. Imam al-Qurthuby mengomentari hadis Abu Said al-Khudri dengan mengatakan bahwa para ulama berkata bahwa Rasulullah Saw melakukan hal tersebut –yaitu mencela penyair tersebut- karena beliau Saw telah mengetahui keadaan penyair tersebut, karena penyair tersebut dikenal sebagai penyair yang menjadikan syair-syairnya sebagai jalan untuk mendapatkan penghasilan sehingga dia berlebihan dalam memuji ketika diberi, dan berlebihan dalam mencela ketika tidak diberi, sehingga menyiksa manusia, baik dari segi harta maupun kehormatan. Oleh karena itu mereka yang melakukan hal ini wajib untuk diingkari. An-Nawawi berkata : syair itu hukumnya boleh selama didalamnya tidak terdapat hal-hal yang keji dan sejenisnya. Al-Mubarakfury berkata: yang dimaksud dengan memenuhi (perutnya dengan syair) adalah ketika syair telah menguasainya dimana dia lebih disibukkan dengannya dari al-Qur’an dan ilmu-ilmu Islam lainnya, maka hal tersebut menjadi syair yang tercela apapun bentuknya. Maka dari itu Imam al-Bukhary dalam shahihnya meberikan bab khusus tentang syair dengan nama bab dibencinya syair ketika lebih mendominasi manusia dari al-Qur’an dan dzikir kepada Allah. Jadi apabila seseorang menjadikan al-Qur’an dan Ibadah kepada Allah sebagai kesibukan utama, maka baginya boleh untuk membuat syair dan melantunkankannya selama syair tersebut tidak bertentangan dengan aturan-aturan syari’at. Berdasarkan analisis dari pendapat para ulama di atas dapat dipahami secara kontekstual bahwa hadis Rasulullah Saw yang menyebutkan secara eksplisit larangan syair dan bersyair bersifat temporal karena syair yang terlarang adalah syair yang mengandung pujian yang berlebihan dan dicampuri dengan kebohongan serta syair yang mengandung cacian, celaan dan hinaan terhadap harkat dan martabat manusia baik secara khusus maupun umum. Sehingga hadis tentang larangan syair dan bersyair hanya dapat dipahami dengan kaidah:
الْعِبْرَةُ بِخُصُوْصِ السَّبَبِ لاَ بِعُمُوْمِ اللَّفْظِ “
Yang dijadikan sebagai patokan adalah kekhususan sebab bukan keumuman lafadh”
Akan tetapi Rasulullah Saw sebagai seorang arab memiliki kecenderungan melantunkan syair dan mendengarkan syair sebagaimana hadis-hadis yang menjelaskan akan kebolehan syair dan melantunkan syair tetapi beliau tidak membuat atau menysun syair karena kedudukan beliau sebagai Rasul hal ini ditegaskan oleh dalam firmannya yang artinya: “Dan kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan Kitab yang memberi penerangan” (Q.S. Yasin : 69). Ayat di atas menunjukkan bahwa Rasulullah Saw tidak membuat atau menyusun syair dan tidak mengatakan sebait syair pun, jika beliau ingin melantunkan syair beliau tidak menyempurnakan atau senantiasa memotong timbangan syair tersebut, sebagai salah contoh sebagaimana disebutkan oleh Aisyah dalam riwayat Ahmad & al-Tirmidzi : رُبَّمَا تَمَثَّلَ شِعْرَ ابْنِ رَوَاحَةَ وَيَقُولُ وَيَأْتِيكَ بِالْأَخْبَارِ مِنْ لَمْ تُزَوِّدِ
‘Beliau pernah melantunkan Syair Ibnu Rawahah dan beliau melantunkan: ‘Dan akan datang kepadamu berita dari yang tidak kamu sangka’.” Penjelasan dari Aisyah menunjukkan bahwas Rasulullah Saw hanya menyebutkan dan melantunkan potongan syair karya Abdullah bin Rawahah pada masa perang Khandak dengan tujuan agar lebih bersemangat, karena sesungguhnya syair karya Ibnu Rawahah menyebutkan :
سَتُبْدِي لَكَ الْأَيَّامُ مَا كُنْتَ جَاهِلًا وَيَأْتِيكَ بِالْأَخْبَارِ مَنْ لَمْ تُزَوِّدِ
Akan tampak kepadamu hari hari dimana kebodohanmu # Dan akan datang kepadamu berita dari yang tidak kamu sangka
Dan banyak lagi riwayat-riwayat lain yang menunjukkan bahwa beliau hanya menyebutkan syair karya sahabat-sahabat beliau dengan cara memotongnya bukan dari syair-yair karya beliau sendiri, karena pelarangan dari Allah. Diantara hikmah larangan Allah terhadap Rasul-Nya untuk menyusun syair dan melantunkannya adalah agar anggapan kaum kafir bahwa Rasulullah Saw adalah seorang ahli syair dan al-Qur’an merupakan syair karya Muhammad Saw terbantahkan.
Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hadis tentang larangan syair dan bersyair bersifat temporal karena syair yang terlarang adalah syair yang menyalahi aturan-aturan syariat, dan syair yang tercela adalah syair-syair yang disusun untuk merendahkan martabat manusia secara umum dan kaum muslimin secara khusus. Demikian pula syair yang sangat menyibukkan melebihi kesibukan dalam membaca al-Qur’an dan beribadah kepada Allah.
Adapun syair-syair yang disusun dengan tidak mengenyampingkan apalagi meninggalkan ibadah kepada Allah dengan tujuan untuk menyadarkan manusia dari keterpurukan mereka atau membangkitkan semangat kaum muslimin dan melemahkan semangat kaum kafir dan sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah, maka syair tersebut adalah syair yang dibolehkan dan bahkan mendapatkan posisi terpuji dalam Islam sebagaimana yang pernah diberikan kepada para ahli syair dari kalangan sahabat seperti Hassan, Labid, Abdullah bin Rawahah dan selainnya yang dikenal sebagai ahli syair pada masa mereka. Selian itu larangan mutlak untuk menyusun syair dan melantunkannya hanya dikhususkan kepada Rasulullah Saw dan tidak kepada umatnya.
Bagaimana sebetulnya hukum bersyair dalam Islam . Dalam Islam terdapat dua bentuk penjelasan tentang kedudukan syair. Ada teks yang menjelaskan tentang kebolehannya dan adapula yang mencelanya. Berikut beberapa teks hadis yang menjelaskan kebolehan syair dan bersyair:
عَنْ عَمْرِو بْنِ الشَّرِيدِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ رَدِفْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمًا فَقَالَ هَلْ مَعَكَ مِنْ شِعْرِ أُمَيَّةَ بْنِ أَبِى الصَّلْتِ شَيْئًا قُلْتُ نَعَمْ قَالَ: هِيهِ فَأَنْشَدْتُهُ بَيْتًا فَقَالَ: هِيهِ ثُمَّ أَنْشَدْتُهُ بَيْتًا فَقَالَ: هِيهِ حَتَّى أَنْشَدْتُهُ مِائَةَ بَيْتٍ
Artinya: Dari Amru bin al-Syarid dari Ayahnya, ia berkata, “Suatu ketika aku bersama Rasulullah saw, kemudian beliau berkata, ‘Apakah kamu mengetahui beberapa (bait) dari syair karya Umayyah bin ash-Shalt?’ Aku menjawab, ‘Ya’. Beliau berkata, ‘lantunkanlah!’, kemudian aku melantunkan satu bait. Beliau berkata, ‘lanjutkan’ kemudian aku melantunkan satu bait. Beliau berkata, ‘lanjutkan’. Hingga aku melantunkan 100 bait (syair)” H.r. Muslim Selain riwayat di atas terdapat pula keterangan lain sebagaimana diriwayatkan oleh al-Tirmidzi sebagai berikut:
عن أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ مَكَّةَ فِي عُمْرَةِ الْقَضَاءِ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَوَاحَةَ بَيْنَ يَدَيْهِ يَمْشِي وَهُوَ يَقُولُ خَلُّوا بَنِي الْكُفَّارِ عن سَبِيلِهِ الْيَوْمَ نَضْرِبْكُمْ عَلَى تَنْزِيلِهِ ضَرْبًا يُزِيلُ الْهَامَ عن مَقِيلِهِ وَيُذْهِلُ الْخَلِيلَ عن خَلِيلِهِ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ يَا ابْنَ رَوَاحَةَ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي حَرَمِ اللَّهِ تَقُولُ الشِّعْرَ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَلِّ عَنْهُ يَا عُمَرُ فَلَهِيَ أَسْرَعُ فِيهِمْ مِنْ نَضْحِ النَّبْلِ
Artinya: Dari Anas Bahwasanya Rasulullah Saw masuk ke Makkah pada masa umrah Qadha dan Abdullah bin Rawahah sedang berjalan di depan beliau sambil berkata : “Berikan jalan kepada anak orang-orang kafir # Hari ini kami akan memukul kalian dirumah kalian # Dengan pukulan yang menghilangkan kesedihan dari peraduannya # Dan menjauhkan seorang kekasih dari kekasihnya. Umar kemudian berkata kepadanya : ‘wahai Ibnu Rawahah dihadapan Rasulullah Saw dan didalam masjid al-haram kamu melantunkan syair?’ kemudian Nabi Saw berkata kepada Umar : “Biarkan dia wahai Umar sebab hal itu lebih mempercepat dari siraman yang baik” Dalam riwayat yang lain Rasulullah Saw memuji syair salah seorang sahabat yang bernama Labid bin Rabi’ah:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَصْدَقُ كَلِمَةٍ قَالَهَا الشَّاعِرُ كَلِمَةُ لَبِيدٍ: أَلَا كُلُّ شَيْءٍ مَا خَلَا اللهَ بَاطِلُ وَكَادَ ابْنُ أَبِي الصَّلْتِ يُسْلِمُ
Artinya: Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallhu ‘alaihi wa sallam beliau berkata : “Kalimat yang paling benar yang diucapkan oleh penyair adalah kalimat Labid: “Ketahuilah segala sesuatu yang selain Allah adalah bathil (rusakn dan binasa)”. Dan hampir saja Umayyah bin Abu al-Shalt memeluk Islam”. H.r. At-Thahawi Dalam riwayat lain Rasulullah Saw mengemukakan bahwasanya terdapat kandungan hikmah dibalik bait-bait syair sebagaimana sabda Beliau Saw: عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : إِنَّ مِنَ الشِّعْرِ حِكْمَةً Artinya : Dari Ibnu Abas, ia berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya terdapat hikmah diantara (bait-bait) syair’.” H.r. Al-Baihaqi Adapun hadis yang menerangkan akan ketidakbolehan syair dan bersyair adalah :
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لأَنْ يَمْتَلِئَ جَوْفُ أَحَدِكُمْ قَيْحًا خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمْتَلِئَ شِعْرًا
Artinya: Dari Abu Huraerah, ia berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Lambung seseorang penuh dengan nanah lebih baik daripada penuh dengan syair’.” H.r. Abu Daud B. Pemahaman Hadis-hadis Syair Dari beberapa teks hadis di atas menunjukkan terjadinya kontroversi tentang hukum syair. Di satu sisi Rasulullah saw membenarkan dan menyuruh sebahagian dari sahabat beliau untuk melantunkan syair, bahkan beliau sendiri melantunkan syair sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad dan al-Tirmidzi :
عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ شُرَيْحٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قُلْتُ لِعَائِشَةَ هَلْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَمَثَّلُ الشِّعْرَ قَالَتْ رُبَّمَا تَمَثَّلَ شِعْرَ ابْنِ رَوَاحَةَ وَيَقُولُ وَيَأْتِيكَ بِالْأَخْبَارِ مِنْ لَمْ تُزَوِّدِ
Artinya: Dari al-Miqdam bin Syureh, dari Ayahnya, ia berkata, “Aku bertanya kepada Aisyah: ‘Apakah Rasulullah Pernah melantunkan syair?’ Aisyah menjawab, ‘Beliau pernah melantunkan Syair Ibnu Rawahah dan beliau melantunkan: ‘Dan akan datang kepadamu berita dari yang tidak kamu sangka’.” Namun pada sisi yang lain Rasulullah saw melarang untuk bersyair sebagaimana sabda beliau Saw :
لأَنْ يَمْتَلِئَ جَوْفُ أَحَدِكُمْ قَيْحًا خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمْتَلِئَ شِعْرًا » - رواه أبو داود –
Artinya: “Lambung seseorang penuh dengan nanah lebih baik daripada penuh dengan syair”. H.r. Abu Daud
Ketika melihat hadis kedua tentang pelarangan bersyair secara zahir, maka akan ditemukan pelarangan untuk bersyair secara mutlak, sebab Rasulullah Saw menyebutkan bahwa “perut seseorang dipenuhi oleh nanah (yang dapat merusaknya) lebih baik daripada dipenuhi oleh syair”. Atas dasar ini beberapa ulama melarang syair secara mutlak berdasarkan hadis tersebut.
Imam Ibnu Hajar berkata: “Para ulama terdahulu berbeda pendapat tentang apabila isi sebuah kitab seluruhnya adalah syair, Al-Sya’bi berpendapat bahwa hal tersebut (kitab dipenuhi oleh syair) tidak boleh, dan al-Zuhry berpendapat bahwa telah menjadi sebuah sunnah terdahulu bahwa basmalah tidak boleh tercampur dengan syair, sementara Said bin Jubair dan Jumhur serta pilihan al-Khatib bahwa buku yang dipenuhi dengan syair dan basmalah tercampur dengan syair adalah boleh”
Sebenarnya hadis tentang pelarangan bersyair memiliki asabab al-wurud, sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim sebagai berikut:
عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ نَسِيرُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِاْلعَرْجِ إِذْ عَرَضَ شََاعِرٌ يُنْشِدُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-: خُذُوا الشَّيْطَانَ أَوْ أَمْسِكُوا الشَّيْطَانَ لأَنْ يَمْتَلِئَ جَوْفُ رَجُلٍ قَيْحًا خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمْتَلِئَ شِعْرًا
Artinya: DariAbu Said al-Khudri, ia berkata, “Ketika kami sedang berjalan bersama Rasulullah Saw di al-’Araj, tiba –tiba seorang penyair membacakan syair (kepada kami) Maka Rasulpun berkata: ‘Tahan syaitan itu, Lambung seseorang penuh dengan nanah lebih baik daripada penuh dengan syair”
Ibnu Baththal berkata: sebahagian ulama berpendapat bahwa syair yang dimaksud dalam hadis adalah syair-syair yang mengandung hujatan terhadap Rasulullah Saw. Akan tetapi Abu Ubaid secara pribadi berdasarkan kesepakatan ulama menganggap bahwa penafsiran tentang makna syair adalah penafsiran yang salah sebab kaum muslimin telah sepakat bahwa satu kalimat yang mengandung hujatan kepada Rasulullah Saw maka akan menjadikan kufur. Akan tetapi dikalangan sebagian ulama melarang syair dan bersyair secara mutlak. Hal tersebut didasarkan perkataan Rasulullah Saw : “tahan Syaitan itu” dan firman Allah yang Artinya: Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. (Q.S. al-Syu’ara’ : 224)
Berdasarkan ayat dan hadis tersebut mereka yang melarang syair secara mutlak menganggap bahwa syair dan bersyair merupkan pekerjaan syaitan yang sesat. Para ahli tafsir seperti al-Thabary berpendapat bahwa para ahli syair tersebut mengikuti jejak orang-orang yang sesat bukan jejak orang-orang yang mendapat petunjuk. Dan yang dimaksud dengan orang yang sesat menurut Ibnu Abbas adalah para pembuat syair dari kalangan orang-orang kafir dan yang lainnya berpendapat yang dimaksud dengan orang sesat adalah Syaitan. Ikrimah berkata bahwa suatu ketika terdapat dua ahli syair yang saling mencaci satu sama lain (dengan menggunakan syair), maka Allah menurunkan ayat ini (al-Syu’ara’:224).
Qatadah berpendapat bahwa para ahli syair memuji seseorang dengan hal-hal yang batil dan mencela dengan hal-hal yang batil pula. Imam al-Qurthuby mengomentari hadis Abu Said al-Khudri dengan mengatakan bahwa para ulama berkata bahwa Rasulullah Saw melakukan hal tersebut –yaitu mencela penyair tersebut- karena beliau Saw telah mengetahui keadaan penyair tersebut, karena penyair tersebut dikenal sebagai penyair yang menjadikan syair-syairnya sebagai jalan untuk mendapatkan penghasilan sehingga dia berlebihan dalam memuji ketika diberi, dan berlebihan dalam mencela ketika tidak diberi, sehingga menyiksa manusia, baik dari segi harta maupun kehormatan. Oleh karena itu mereka yang melakukan hal ini wajib untuk diingkari. An-Nawawi berkata : syair itu hukumnya boleh selama didalamnya tidak terdapat hal-hal yang keji dan sejenisnya. Al-Mubarakfury berkata: yang dimaksud dengan memenuhi (perutnya dengan syair) adalah ketika syair telah menguasainya dimana dia lebih disibukkan dengannya dari al-Qur’an dan ilmu-ilmu Islam lainnya, maka hal tersebut menjadi syair yang tercela apapun bentuknya. Maka dari itu Imam al-Bukhary dalam shahihnya meberikan bab khusus tentang syair dengan nama bab dibencinya syair ketika lebih mendominasi manusia dari al-Qur’an dan dzikir kepada Allah. Jadi apabila seseorang menjadikan al-Qur’an dan Ibadah kepada Allah sebagai kesibukan utama, maka baginya boleh untuk membuat syair dan melantunkankannya selama syair tersebut tidak bertentangan dengan aturan-aturan syari’at. Berdasarkan analisis dari pendapat para ulama di atas dapat dipahami secara kontekstual bahwa hadis Rasulullah Saw yang menyebutkan secara eksplisit larangan syair dan bersyair bersifat temporal karena syair yang terlarang adalah syair yang mengandung pujian yang berlebihan dan dicampuri dengan kebohongan serta syair yang mengandung cacian, celaan dan hinaan terhadap harkat dan martabat manusia baik secara khusus maupun umum. Sehingga hadis tentang larangan syair dan bersyair hanya dapat dipahami dengan kaidah:
الْعِبْرَةُ بِخُصُوْصِ السَّبَبِ لاَ بِعُمُوْمِ اللَّفْظِ “
Yang dijadikan sebagai patokan adalah kekhususan sebab bukan keumuman lafadh”
Akan tetapi Rasulullah Saw sebagai seorang arab memiliki kecenderungan melantunkan syair dan mendengarkan syair sebagaimana hadis-hadis yang menjelaskan akan kebolehan syair dan melantunkan syair tetapi beliau tidak membuat atau menysun syair karena kedudukan beliau sebagai Rasul hal ini ditegaskan oleh dalam firmannya yang artinya: “Dan kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan Kitab yang memberi penerangan” (Q.S. Yasin : 69). Ayat di atas menunjukkan bahwa Rasulullah Saw tidak membuat atau menyusun syair dan tidak mengatakan sebait syair pun, jika beliau ingin melantunkan syair beliau tidak menyempurnakan atau senantiasa memotong timbangan syair tersebut, sebagai salah contoh sebagaimana disebutkan oleh Aisyah dalam riwayat Ahmad & al-Tirmidzi : رُبَّمَا تَمَثَّلَ شِعْرَ ابْنِ رَوَاحَةَ وَيَقُولُ وَيَأْتِيكَ بِالْأَخْبَارِ مِنْ لَمْ تُزَوِّدِ
‘Beliau pernah melantunkan Syair Ibnu Rawahah dan beliau melantunkan: ‘Dan akan datang kepadamu berita dari yang tidak kamu sangka’.” Penjelasan dari Aisyah menunjukkan bahwas Rasulullah Saw hanya menyebutkan dan melantunkan potongan syair karya Abdullah bin Rawahah pada masa perang Khandak dengan tujuan agar lebih bersemangat, karena sesungguhnya syair karya Ibnu Rawahah menyebutkan :
سَتُبْدِي لَكَ الْأَيَّامُ مَا كُنْتَ جَاهِلًا وَيَأْتِيكَ بِالْأَخْبَارِ مَنْ لَمْ تُزَوِّدِ
Akan tampak kepadamu hari hari dimana kebodohanmu # Dan akan datang kepadamu berita dari yang tidak kamu sangka
Dan banyak lagi riwayat-riwayat lain yang menunjukkan bahwa beliau hanya menyebutkan syair karya sahabat-sahabat beliau dengan cara memotongnya bukan dari syair-yair karya beliau sendiri, karena pelarangan dari Allah. Diantara hikmah larangan Allah terhadap Rasul-Nya untuk menyusun syair dan melantunkannya adalah agar anggapan kaum kafir bahwa Rasulullah Saw adalah seorang ahli syair dan al-Qur’an merupakan syair karya Muhammad Saw terbantahkan.
Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hadis tentang larangan syair dan bersyair bersifat temporal karena syair yang terlarang adalah syair yang menyalahi aturan-aturan syariat, dan syair yang tercela adalah syair-syair yang disusun untuk merendahkan martabat manusia secara umum dan kaum muslimin secara khusus. Demikian pula syair yang sangat menyibukkan melebihi kesibukan dalam membaca al-Qur’an dan beribadah kepada Allah.
Adapun syair-syair yang disusun dengan tidak mengenyampingkan apalagi meninggalkan ibadah kepada Allah dengan tujuan untuk menyadarkan manusia dari keterpurukan mereka atau membangkitkan semangat kaum muslimin dan melemahkan semangat kaum kafir dan sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah, maka syair tersebut adalah syair yang dibolehkan dan bahkan mendapatkan posisi terpuji dalam Islam sebagaimana yang pernah diberikan kepada para ahli syair dari kalangan sahabat seperti Hassan, Labid, Abdullah bin Rawahah dan selainnya yang dikenal sebagai ahli syair pada masa mereka. Selian itu larangan mutlak untuk menyusun syair dan melantunkannya hanya dikhususkan kepada Rasulullah Saw dan tidak kepada umatnya.
Senin, 14 November 2011
Cara Pesan Sepatu Mc. Ajuang
Jika anda benar-benar pecinta buatan putra Indonesia sejati , maka tidak salahlah anda memakai sepatu Mc. Ajuang.
Saat ini kami tidak melayani transaksi online. Jika anda ingin membeli produk kami, dapat dengan berbagai cara :
- Datanglah ke alamat workshop kami di Bulak Jaya rt 12, rw 08 no 24. kelurahan Pulo Gebang , cakung Jakarta Timur.
- Menelepon kami ke 02190205839 atau 08128207479
- In box ke facebook kami di http://www.facebook.com/messages/100001235142746
- Bila `anda ingin dikirim saja, silahkan transfer lebih dulu sejumlah harga bandrol ditambah ongkos kirim ke rekening : BCA kcp Buaran Jaktim no. Ac. 6330335872 atas nama BUSRA. kemudian konfirmasi ke nomor tlp. diatas.
Selasa, 04 Oktober 2011
Uais Berguru Secara Rohani Pada Rasulullah
Sayidina Umar ra dan Sayidina Ali ra dibut penasaran dengan pesan Rasulullah SAW. Sebelum wafat Nabi Muhammad SAW berpesan kepada kedua sahabatnya,
Ali dan Umar untuk mencari dan meminta doa kepada Uais Al-Qarni. Pesan
Nabi SAW itu kelak pada hari kebangkitan nanti Uais akan memberikan
syafaat kepada sejumlah manusia sebanyak domba Rabi’ah dan Mudhar.
Sejak itulah kedua sahabat Nabi ini dalam setiap kesempatan selalu berusaha mencari Uais Al-Qarni. Nampaknya, untuk mencari Uais sulitnya bukan main, bahkan Ali dan Umar mencarinya di banyak negara Islam yang tersebar di jazirah Arab. Kedua sahabat ini tidak mengenal lelah.
Bahkan sampai saat kematian Khalifah Abu Bakar dan diteruskan ke Khalifah Umar sebagai Amirul Mukminin, kedua sahabat ini masih belum menemukan sosok yang dimaksud oleh Nabi tersebut. Padahal Nabi sudah memberikan ciri-ciri Uais. Orangnya berperawakan sedang, rambutnya lebat, dan ada tanda putih pada bahu kiri dan telapak tangannnya.
Pada suatu hari Umar dan Ali menemui rombongan haji dari Yaman. Dari rombongan haji tersebut Umar dan Ali mendapatkan informasi bahwa Uais Al-Qarni tinggal seorang diri di padang pasir. Ia hidup sendirian bahkan ia dianggap gila. Keduanya sudah tak sabar untuk bertemu dengan sosok manusia istimewa itu. Memang benar, Uais tinggal di tempat terpecil di desa sunyi. Di sanalah Umar dan Ali dapat bertemu dengan orang yang dicarinya.
NASIHAT UAIS
Setelah bertemu dengan Uais, Umar tidak sabar langsung ingin mengetahui tentang siapa sebenarnya Uais ini. Uais mempersilakan Umar dan Ali memeriksa badannya. Ternyata tanda putih di bahu kiri dan telapak tangan orang ini persis seperti apa yang dikatakan oleh Rasulullah. Kemudian Umar berkata, “Kami berdua berkesimpulan Anda adalah Uais, berikan pelajaran dan doakan kami!” pinta Umar.
“Saya tidak pernah mendoakan khusus kepada seseorang, tetapi mendoakan kepada seluruh kaum muslimin. Siapakah Anda berdua?” balik tanya Uais.
“Beliau adalah Umar bin Khattab Amiril Mukminin dan aku adalah Ali bin Abi Thalib,” kata Ali sembari menunjuk Umar.
“Ajarilah kami wahai hamba Allah!” pinta Umar.
“Carilah rahmat-Nya dengan taat dan mengikuti dengan penuh harap dan takut kepada-Nya,” jawab Uais.
“Terima kasih atas pelajaran yang amat berharga ini. Kami telah menyediakan seperangkat pakaian dan uang untuk Anda. Kami harap Anda menerima,” kata Umar sambil menyodorkan hadiah yang dibawanya.
“Terima kasih Amiril Mukminin, saya tidak menolak, tetapi tidak membutuhkan hadiah itu. Upah saya sebagai penggembala kambing hanya empat dirham, dan itu saja sudah berkelebihan. Hingga sisanya kuserahkan kepada ibuku,” tolak Uais dengan penuh kesopanan.’
MEMBELA KEBENARAN
Ia juga seorang tokoh sufi besar pada zaman tabi’in, sebagai zahid ia sangat sederhana, taat dan patuh kepada Allah dan Rasul-Nya serta orangtuanya. Di siang hari ia bekerja, dan mulut serta hatinya selalu penuh dengan zikir, pada malam hari diisinya dengan salat.
Ia memang tak pernah bertemu dengan Rasulullah, namun rohaninya selalu berhubungan. Sehingga, Rasulullah berwasiat kepada Umar dan Ali agar meminta doa Uais. la selalu dalam keadaan lapar dan hanya mempunyai pakaian yang melekat di badannya. Dalam keadaan seperti itu, ia terus berdoa. “Ya Allah janganlah Engkau siksa aku karena ada yang mati kelaparan dan janganlah Engkau siksa aku karena ada yang mati kedinginan”.
Dirinya selalu bersama Allah dan orang yang lemah. la bisa merasakan bagimana derita orang-orang lemah, dan membuat dirinya seperti mereka sebagaimana diamalkan oleh Rasulullah. Berita tentang kedudukan Uais yang istimewa di mata Rasulullah langsung segera menyebar di berbagai negara Islam sehingga orang-orang Yaman memuliakannya.
Dalam perjalanan hidupnya. Uais Al-Qarni tidak hanya menyendiri dan mengasingkan diri dari manusia. Ketika perang Shiffin ia berada di garis depan dengan Ali bin Abi Thalib membela kebenaran. Tatkala kaum muslimin membuka daerah-daerah Romawi, ia ikut memperkuat barisan Islam. Namun, dalam perjalanan ia terserang penyakit dan meninggal pada 39 H.
Sumber : Nurani 205 (25 November-01 Desember 2004)
Sejak itulah kedua sahabat Nabi ini dalam setiap kesempatan selalu berusaha mencari Uais Al-Qarni. Nampaknya, untuk mencari Uais sulitnya bukan main, bahkan Ali dan Umar mencarinya di banyak negara Islam yang tersebar di jazirah Arab. Kedua sahabat ini tidak mengenal lelah.
Bahkan sampai saat kematian Khalifah Abu Bakar dan diteruskan ke Khalifah Umar sebagai Amirul Mukminin, kedua sahabat ini masih belum menemukan sosok yang dimaksud oleh Nabi tersebut. Padahal Nabi sudah memberikan ciri-ciri Uais. Orangnya berperawakan sedang, rambutnya lebat, dan ada tanda putih pada bahu kiri dan telapak tangannnya.
Pada suatu hari Umar dan Ali menemui rombongan haji dari Yaman. Dari rombongan haji tersebut Umar dan Ali mendapatkan informasi bahwa Uais Al-Qarni tinggal seorang diri di padang pasir. Ia hidup sendirian bahkan ia dianggap gila. Keduanya sudah tak sabar untuk bertemu dengan sosok manusia istimewa itu. Memang benar, Uais tinggal di tempat terpecil di desa sunyi. Di sanalah Umar dan Ali dapat bertemu dengan orang yang dicarinya.
NASIHAT UAIS
Setelah bertemu dengan Uais, Umar tidak sabar langsung ingin mengetahui tentang siapa sebenarnya Uais ini. Uais mempersilakan Umar dan Ali memeriksa badannya. Ternyata tanda putih di bahu kiri dan telapak tangan orang ini persis seperti apa yang dikatakan oleh Rasulullah. Kemudian Umar berkata, “Kami berdua berkesimpulan Anda adalah Uais, berikan pelajaran dan doakan kami!” pinta Umar.
“Saya tidak pernah mendoakan khusus kepada seseorang, tetapi mendoakan kepada seluruh kaum muslimin. Siapakah Anda berdua?” balik tanya Uais.
“Beliau adalah Umar bin Khattab Amiril Mukminin dan aku adalah Ali bin Abi Thalib,” kata Ali sembari menunjuk Umar.
“Ajarilah kami wahai hamba Allah!” pinta Umar.
“Carilah rahmat-Nya dengan taat dan mengikuti dengan penuh harap dan takut kepada-Nya,” jawab Uais.
“Terima kasih atas pelajaran yang amat berharga ini. Kami telah menyediakan seperangkat pakaian dan uang untuk Anda. Kami harap Anda menerima,” kata Umar sambil menyodorkan hadiah yang dibawanya.
“Terima kasih Amiril Mukminin, saya tidak menolak, tetapi tidak membutuhkan hadiah itu. Upah saya sebagai penggembala kambing hanya empat dirham, dan itu saja sudah berkelebihan. Hingga sisanya kuserahkan kepada ibuku,” tolak Uais dengan penuh kesopanan.’
MEMBELA KEBENARAN
Ia juga seorang tokoh sufi besar pada zaman tabi’in, sebagai zahid ia sangat sederhana, taat dan patuh kepada Allah dan Rasul-Nya serta orangtuanya. Di siang hari ia bekerja, dan mulut serta hatinya selalu penuh dengan zikir, pada malam hari diisinya dengan salat.
Ia memang tak pernah bertemu dengan Rasulullah, namun rohaninya selalu berhubungan. Sehingga, Rasulullah berwasiat kepada Umar dan Ali agar meminta doa Uais. la selalu dalam keadaan lapar dan hanya mempunyai pakaian yang melekat di badannya. Dalam keadaan seperti itu, ia terus berdoa. “Ya Allah janganlah Engkau siksa aku karena ada yang mati kelaparan dan janganlah Engkau siksa aku karena ada yang mati kedinginan”.
Dirinya selalu bersama Allah dan orang yang lemah. la bisa merasakan bagimana derita orang-orang lemah, dan membuat dirinya seperti mereka sebagaimana diamalkan oleh Rasulullah. Berita tentang kedudukan Uais yang istimewa di mata Rasulullah langsung segera menyebar di berbagai negara Islam sehingga orang-orang Yaman memuliakannya.
Dalam perjalanan hidupnya. Uais Al-Qarni tidak hanya menyendiri dan mengasingkan diri dari manusia. Ketika perang Shiffin ia berada di garis depan dengan Ali bin Abi Thalib membela kebenaran. Tatkala kaum muslimin membuka daerah-daerah Romawi, ia ikut memperkuat barisan Islam. Namun, dalam perjalanan ia terserang penyakit dan meninggal pada 39 H.
Sumber : Nurani 205 (25 November-01 Desember 2004)
Minggu, 25 September 2011
Jumat, 16 September 2011
Hutang Piutang Dalam Fiqih Islam
Adat teluk timbunan kapal, adat gunung timbunan kabut, begitu bunyi pepatah lama di kampungku. Sudah menjadi kebiasaan apabila ada yg kaya adalah tempat bertenggang . Suka atau tidak, si kaya selalu saja didatangi oleh si miskin untuk minta pertolongan berupa pinjaman alias berutang. Bagi si kaya yg kurang iman ini biasanya menjadi suatu dilema antara memberikan atau tidak. Jika diberikan pinjaman atau hutang , rasa tak percaya ikut menghantui, dan jika tak diberikan ada rasa tak enak. Itu baru si kaya yg kurang iman, nah kalau si kaya yg nggak beriman, bukan dilema lagi , tapi tak dapat menyebutnya.
Sedang si miskin pun, suka atau tidak , ada saja masalah yg dihadapinya, bahkan kejadian-kejadian yg memaksa dia harus berutang. Bagi si miskin yg tegar dan kuat iman , sedapat mungkin akan menghindari untuk berutang. Tapi jika si miskin yg suka mengeluh dan kurang iman, sudah menjadi kesenangan baginya meminta-minta . dengan sedikit musibahpun dibesar-besarkan demi menghiba memohon bantuan dan bedalih meminjam walau dihatinya tidak ada niat membayarnya.
Dalam ajaran Islam, utang-piutang adalah muamalah yang dibolehkan, tapi diharuskan untuk ekstra hati-hati dalam menerapkannya. Karena utang bisa mengantarkan seseorang ke dalam surga, dan sebaliknya juga menjerumuskan seseorang ke dalam neraka.
A. PENGERTIAN HUTANG PIUTANG:
Di dalam fiqih Islam, hutang piutang atau pinjam meminjam telah dikenal
dengan istilah Al-Qardh. Makna Al-Qardh secara etimologi (bahasa) ialah
Al-Qath’u yang berarti memotong. Harta yang diserahkan kepada orang yang
berhutang disebut Al-Qardh, karena merupakan potongan dari harta orang
yang memberikan hutang.(1)
Sedangkan secara terminologis (istilah syar’i), makna Al-Qardh ialah menyerahkan harta (uang) sebagai bentuk kasih sayang kepada siapa saja yang akan memanfaatkannya dan dia akan mengembalikannya (pada suatu saat) sesuai dengan padanannya.(2)
Atau dengan kata lain, Hutang Piutang adalah memberikan sesuatu yang menjadi hak milik pemberi pinjaman kepada peminjam dengan pengembalian di kemudian hari sesuai perjanjian dengan jumlah yang sama. Jika peminjam diberi pinjaman Rp. 1.000.000 (satu juta rupiah) maka di masa depan si peminjam akan mengembalikan uang sejumlah satu juta juga.
B. HUKUM HUTANG PIUTANG:
Hukum Hutang piutang pada asalnya DIPERBOLEHKAN dalam syariat Islam. Bahkan orang yang memberikan hutang atau pinjaman kepada orang lain yang sangat membutuhkan adalah hal yang DISUKAI dan DIANJURKAN, karena di dalamnya terdapat pahala yang besar. Adapun dalil-dalil yang menunjukkan disyariatkannya hutang piutang ialah sebagaimana berikut ini:
Dalil dari Al-Qur’an adalah firman Allah swt;
“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 245)
Sedangkan dalil dari Al-Hadits adalah apa yang diriwayatkan dari Abu Rafi’ ra, bahwa Nabi saw pernah meminjam seekor unta kepada seorang lelaki. Aku datang menemui beliau membawa seekor unta dari sedekah. Beliau menyuruh Abu Rafi’ untuk mengembalikan unta milik lelaki tersebut. Abu Rafi’ kembali kepada beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah! Yang kudapatkan hanya-lah seekor unta ruba’i terbaik?” Beliau saw bersabda,
“Berikan saja kepadanya. Sesungguhnya orang yang terbaik adalah yang paling baik dalam mengembalikan hutang.” (3)
Nabi saw juga bersabda:
“Setiap muslim yang memberikan pinjaman kepada sesamanya dua kali, maka dia itu seperti orang yang bersedekah satu kali.” (HR. Ibnu Majah II/812 no.2430, dari Ibnu Mas’ud . Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Albani di dalam Irwa’ Al-ghalil Fi Takhrij Ahadits manar As-sabil (no.1389).)
Sementara dari Ijma’, para ulama kaum muslimin telah berijma’ tentang disyariatkannya hutang piutang (peminjaman).
C. PERINGATAN KERAS TENTANG HUTANG:Dari pembahasan di atas, kita telah mengetahui dan memahami bahwa hukum berhutang atau meminta pinjaman adalah DIPERBOLEHKAN, dan bukanlah sesuatu yang dicela atau dibenci, karena Nabi saw pernah berhutang.(4) Namun meskipun demikian, hanya saja Islam menyuruh umatnya agar menghindari hutang semaksimal mungkin jika ia mampu membeli dengan tunai atau tidak dalam keadaan kesempitan ekonomi. Karena hutang, menurut Rasulullah saw, merupakan penyebab kesedihan di malam hari dan kehinaan di siang hari. Hutang juga dapat membahayakan akhlaq, sebagaimana sabda Rasulullah saw(artinya): “Sesungguhnya seseorang apabila berhutang, maka dia sering berkata lantas berdusta, dan berjanji lantas memungkiri.” (HR. Bukhari).
Rasulullah pernah menolak menshalatkan jenazah seseorang yang diketahui masih meninggalkan hutang dan tidak meninggalkan harta untuk membayarnya. Rasulullah saw bersabda:
“Akan diampuni orang yang mati syahid semua dosanya, kecuali hutangnya.” (HR. Muslim III/1502 no.1886, dari Abdullah bin Amr bin Ash ).
Diriwayatkan dari Tsauban, mantan budak Rasulullahsaw, dari Rasulullah saw, bahwa Beliau bersabda
“Barangsiapa yang rohnya berpisah dari jasadnya dalam keadaan terbebas dari tiga hal, niscaya masuk surga: (pertama) bebas dari sombong, (kedua) dari khianat, dan (ketiga) dari tanggungan hutang.” (HR. Ibnu Majah II/806 no: 2412, dan At-Tirmidzi IV/138 no: 1573. Dan di-shahih-kan oleh syaikh Al-Albani).
Dari Abu Hurairah , bahwa Rasulullah saw bersabda:
“oJiwa rang mukmin bergantung pada hutangnya hingga dilunasi.” (HR. Ibnu Majah II/806 no.2413, dan At-Tirmidzi III/389 no.1078. dan di-shahih-kan oleh syaikh Al-Albani).
Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan menanggung hutang satu Dinar atau satu Dirham, maka dibayarilah (dengan diambilkan) dari kebaikannya; karena di sana tidak ada lagi Dinar dan tidak (pula) Dirham.” (HR. Ibnu Majah II/807 no: 2414. dan di-shahih-kan oleh syaikh Al-Albani).
Dari Abu Qatadah , bahwasannya Rasulullah pernah berdiri di tengah-tengah para sahabat, lalu Beliau mengingatkan mereka bahwa jihad di jalan Allah dan iman kepada-Nya adalah amalan yang paling afdhal. Kemudian berdirilah seorang sahabat, lalu bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku gugur di jalan Allah, apakah dosa-dosaku akan terhapus dariku?” Maka jawab Rasulullah kepadanya “Ya, jika engkau gugur di jalan Allah dalam keadaan sabar mengharapkan pahala, maju pantang melarikan diri.” Kemudian Rasulullah bersabda: “Melainkan hutang, karena sesungguhnya Jibril ’alaihissalam menyampaikan hal itu kepadaku.” (HR. Muslim III/1501 no: 1885, At-Tirmidzi IV/412 no:1712, dan an-Nasa’i VI: 34 no.3157. dan di-shahih-kan oleh syaikh Al-Albani dalam Irwa-ul Ghalil no: 1197).
D. SYARAT PIUTANG MENJADI AMAL SHOLIH?
1. Harta yang dihutangkan adalah harta yang jelas dan murni kehalalannya, bukan harta yang haram atau tercampur dengan sesuatu yang haram.
2. Pemberi piutang / pinjaman tidak mengungkit-ungkit atau menyakiti penerima pinjaman baik dengan kata-kata maupun perbuatan.
3. Pemberi piutang/pinjaman berniat mendekatkan diri kepada Allah swt dengan ikhlas, hanya mengharap pahala dan ridho dari-Nya semata. Tidak ada maksud riya’ (pamer) atau sum’ah (ingin didengar kebaikannya oleh orang lain).
4. Pinjaman tersebut tidak mendatangkan tambahan manfaat atau keuntungan sedikitpun bagi pemberi pinjaman.
E. BEBERAPA ADAB ISLAMI DALAM HUTANG PIUTANG:
Bagaimana Islam mengatur berhutang-piutang yang membawa pelakunya ke surga dan menghindarkan dari api neraka? Perhatikanlah adab-adabnya di bawah ini:
[1]. Hutang piutang harus ditulis dan dipersaksikan.
Dalilnya firman Allah swt:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Rabbnya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tidak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil, dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli ; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit-menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian) maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah ; Allah mengajarmu ; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS. Al-Baqarah: 282)
Berkaitan dengan ayat ini, Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “ini merupakan petunjuk dari-Nya untuk para hamba-Nya yang mukmin. Jika mereka bermu’amalah dengan transaksi non tunai, hendaklah ditulis, agar lebih terjaga jumlahnya dan waktunya dan lebih menguatkan saksi. Dan di ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan salah satu ayat: “Hal itu lebih adil di sisi Allah dan memperkuat persaksian dan agar tidak mendatangkan keraguan”. (5)
[2]. Pemberi hutang atau pinjaman tidak boleh mengambil keuntungan atau manfaat dari orang yang berhutang.
Kaidah fikih berbunyi:
“Setiap hutang yang membawa keuntungan, maka hukumnya riba”. Hal ini terjadi jika salah satunya mensyaratkan atau menjanjikan penambahan.
Dengan kata lain, bahwa pinjaman yang berbunga atau mendatangkan manfaat apapun adalah haram berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijma’ para ulama. Keharaman itu meliputi segala macam bunga atau manfaat yang dijadikan syarat oleh orang yang memberikan pinjaman kepada si peminjam. Karena tujuan dari pemberi pinjaman adalah mengasihi si peminjam dan menolongnya. Tujuannya bukan mencari kompensasi atau keuntungan.(6) Dengan dasar itu, berarti pinjaman berbunga yang diterapkan oleh bank-bank maupun rentenir di masa sekarang ini jelas-jelas merupakan riba yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. sehingga bisa terkena ancaman keras baik di dunia maupun di akhirat dari Allah swt.
Syaikh Shalih Al-Fauzan –hafizhahullah- berkata : “Hendaklah diketahui, tambahan yang terlarang untuk mengambilnya dalam hutang adalah tambahan yang disyaratkan. (Misalnya), seperti seseorang mengatakan, “saya beri anda hutang dengan syarat dikembalikan dengan tambahan sekian dan sekian, atau dengan syarat anda berikan rumah atau tokomu, atau anda hadiahkan kepadaku sesuatu”. Atau juga dengan tidak dilafadzkan, akan tetapi ada keinginan untuk ditambah atau mengharapkan tambahan, inilah yang terlarang, adapun jika yang berhutang menambahnya atas kemauan sendiri, atau karena dorongan darinya tanpa syarat dari yang berhutang ataupun berharap, maka tatkala itu, tidak terlarang mengambil tambahan.(7)
[3]. Melunasi hutang dengan cara yang baik
Hal ini sebagaimana hadits berikut ini:
Dari Abu Hurairah , ia berkata: “Nabi mempunyai hutang kepada seseorang, (yaitu) seekor unta dengan usia tertentu. Orang itupun datang menagihnya. (Maka) beliaupun berkata, “Berikan kepadanya” kemudian mereka mencari yang seusia dengan untanya, akan tetapi mereka tidak menemukan kecuali yang lebih berumur dari untanya. Nabi (pun) berkata: “Berikan kepadanya”, Dia pun menjawab, “Engkau telah menunaikannya dengan lebih. Semoga Allah swt membalas dengan setimpal”. Maka Nabi saw bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik dalam pengembalian (hutang)”. (HR. Bukhari, II/843, bab Husnul Qadha’ no. 2263.)
Dari Jabir bin Abdullah ia berkata: “Aku mendatangi Nabi saw di masjid, sedangkan beliau mempunyai hutang kepadaku, lalu beliau membayarnya dam menambahkannya”. (HR. Bukhari, II/843, bab husnul Qadha’, no. 2264)
Termasuk cara yang baik dalam melunasi hutang adalah melunasinya tepat pada waktu pelunasan yang telah ditentukan dan disepakati oleh kedua belah pihak (pemberi dan penerima hutang), melunasi hutang di rumah atau tempat tinggal pemberi hutang, dan semisalnya.
[4]. Berhutang dengan niat baik dan akan melunasinya
Jika seseorang berhutang dengan tujuan buruk, maka dia telah berbuat zhalim dan dosa. Diantara tujuan buruk tersebut seperti:
a). Berhutang untuk menutupi hutang yang tidak terbayar
b). Berhutang untuk sekedar bersenang-senang
c). Berhutang dengan niat meminta. Karena biasanya jika meminta tidak diberi, maka digunakan istilah hutang agar mau memberi.
d). Berhutang dengan niat tidak akan melunasinya.
Dari Abu Hurairah , ia berkata bahwa Nabi bersabda: “Barangsiapa yang mengambil harta orang lain (berhutang) dengan tujuan untuk membayarnya (mengembalikannya), maka Allah akan tunaikan untuknya. Dan barangsiapa mengambilnya untuk menghabiskannya (tidak melunasinya, pent), maka Allah swt akan membinasakannya”. (HR. Bukhari, II/841 bab man akhodza amwala an-naasi yuridu ada’aha, no. 2257)
Hadits ini hendaknya ditanamkan ke dalam diri sanubari yang berhutang, karena kenyataan sering membenarkan sabda Nabi saw di atas. Berapa banyak orang yang berhutang dengan niat dan tekad untuk menunaikannya, sehingga Allah pun memudahkan baginya untuk melunasinya. Sebaliknya, ketika seseorang bertekad pada dirinya, bahwa hutang yang dia peroleh dari seseorang tidak disertai dengan niat yang baik, maka Allah swt membinasakan hidupnya dengan hutang tersebut. Allah swt melelahkan badannya dalam mencari, tetapi tidak kunjung dapat. Dan dia letihkan jiwanya karena memikirkan hutang tersebut. Kalau hal itu terjadi di dunia yang fana, bagaimana dengan akhirat yang kekal nan abadi?
[5]. Berupaya untuk berhutang dari orang sholih yang memiliki profesi dan penghasilan yang halal.
Sehingga dengan meminjam harta atau uang dari orang sholih dapat menenangkan jiwa n menjauhkannnya dari hal-hal yang kotor dan haram. Sehingga harta pinjaman tersebut ketika kita gunakan untuk suatu hajat menjadi berkah dan mendatangkan ridho Allah swt.
Sedangkan orang yang jahat atau buruk tidak dapat menjamin penghasilannya bersih dan bebas dari hal-hal yang haram.
[6]. Tidak berhutang kecuali dalam keadaan darurat atau mendesak.
Maksudnya kondisi yang tidak mungkin lagi baginya mencari jalan selain berhutang sementara keadaan sangat mendesak, jika tidak akan kelaparan atau sakit yang mengantarkannya kepada kematian, atau semisalnya.
Tidak sepantasnya berhutang untuk membeli rumah baru, kendaraan, laptop model terbaru, atau sejenisnya dengan maksud berbangga-banggaan atau menjaga kegengsian dalam gaya hidup. Padahal dia sudah punya harta atau penghasilan yang mencukupi kebutuhan pokoknya.
[7]. Tidak boleh melakukan jual beli yang disertai dengan hutang atau peminjaman
Mayoritas ulama menganggap perbuatan itu tidak boleh. Tidak boleh memberikan syarat dalam pinjaman agar pihak yang berhutang menjual sesuatu miliknya, membeli, menyewakan atau menyewa dari orang yang menghutanginya. Dasarnya adalah sabda Nabi :
“Tidak dihalalkan melakukan peminjaman plus jual beli.” (HR. Abu Daud no.3504, At-Tirmidzi no.1234, An-Nasa’I VII/288. Dan At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih”.)
Yakni agar transaksi semacam itu tidak dimanfaatkan untuk mengambil bunga yang diharamkan.
[8]. Jika terjadi keterlambatan karena kesulitan keuangan, hendaklah orang yang berhutang memberitahukan kepada orang yang memberikan pinjaman.
Karena hal ini termasuk bagian dari menunaikan hak yang menghutangkan.
Janganlah berdiam diri atau lari dari si pemberi pinjaman, karena akan memperparah keadaan, dan merubah hutang, yang awalnya sebagai wujud kasih sayang, berubah menjadi permusuhan dan perpecahan.
[9]. Menggunakan uang pinjaman dengan sebaik mungkin. Menyadari, bahwa pinjaman merupakan amanah yang harus dia kembalikan.
Dari Samurah , Nabi saw bersabda: “Tangan bertanggung jawab atas semua yang diambilnya, hingga dia menunaikannya”. (HR. Abu Dawud dalam Kitab Al-Buyu’, Tirmidzi dalam kitab Al-buyu’, dan selainnya.)
[10]. Diperbolehkan bagi yang berhutang untuk mengajukan pemutihan atas hutangnya atau pengurangan, dan juga mencari perantara (syafa’at) untuk memohonnya.
Hal ini sebagaimana hadits berikut ini (artinya):
Dari Jabir bin Abdullah , ia berkata: (Ayahku) Abdullah meninggal dan dia meninggalkan banyak anak dan hutang. Maka aku memohon kepada pemilik hutang agar mereka mau mengurangi jumlah hutangnya, akan tetapi mereka enggan. Akupun mendatangi Nabi saw meminta syafaat (bantuan) kepada mereka. (Namun) merekapun tidak mau. Beliau berkata, “Pisahkan kormamu sesuai dengan jenisnya. Tandan Ibnu Zaid satu kelompok. Yang lembut satu kelompok, dan Ajwa satu kelompok, lalu datangkan kepadaku.” (Maka) akupun melakukannya. Beliau pun datang lalu duduk dan menimbang setiap mereka sampai lunas, dan kurma masih tersisa seperti tidak disentuh. (HR. Bukhari kitab Al-Istiqradh, no. 2405)
[11]. Bersegera melunasi hutang
Orang yang berhutang hendaknya ia berusaha melunasi hutangnya sesegera mungkin tatkala ia telah memiliki kemampuan untuk mengembalikan hutangnya itu. Sebab orang yang menunda-menunda pelunasan hutang padahal ia telah mampu, maka ia tergolong orang yang berbuat zhalim. Sebagaimana hadits berikut:
Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Memperlambat pembayaran hutang yang dilakukan oleh orang kaya merupakan perbuatan zhalim. Jika salah seorang kamu dialihkan kepada orang yang mudah membayar hutang, maka hendaklah beralih (diterima pengalihan tersebut)”. (HR. Bukhari dalam Shahihnya IV/585 no.2287, dan Muslim dalam Shahihnya V/471 no.3978, dari hadits Abu Hurairah .)
[12]. Memberikan Penangguhan waktu kepada orang yang sedang kesulitan dalam melunasi hutangnya setelah jatuh tempo.
Allah swt berfirman:
“Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, Maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 280).
Diriwayatkan dari Abul Yusr, seorang sahabat Nabi, ia berkata, Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa yang ingin dinaungi Allah dengan naungan-Nya (pada hari kiamat, pen), maka hendaklah ia menangguhkan waktu pelunasan hutang bagi orang yang sedang kesulitan, atau hendaklah ia menggugurkan hutangnya.” (HR Ibnu Majah II/808 no. 2419. Dan di-shahih-kan oleh syaikh Al-Albani)
Dari sahabat Hudzaifah, beliau pernah mendengar Rasulullah bersabda:
“Ada seorang laki-laki yang hidup di zaman sebelum kalian. Lalu datanglah seorang malaikat maut yang akan mencabut rohnya. Dikatakan kepadanya (oleh malaikat maut): “Apakah engkau telah berbuat kebaikan?” Laki-laki itu menjawab: “Aku tidak mengetahuinya.” Malaikat maut berkata: “ Telitilah kembali apakah engkau telah berbuat kebaikan.” Dia menjawab: “Aku tidak mengetahui sesuatu pun amalan baik yang telah aku lakukan selain bahwa dahulu aku suka berjual beli barang dengan manusia ketika di dunia dan aku selalu mencukupi kebutuhan mereka. Aku memberi keluasan dalam pembayaran hutang bagi orang yang memiliki kemampuan dan aku membebaskan tanggungan orang yang kesulitan.” Maka Allah (dengan sebab itu) memasukkannya ke dalam surga.” (HR. Bukhari III/1272 no.3266)
Demikian penjelasan singkat tentang beberapa adab Islami dalam hutang piutang. Semoga menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Dan semoga Allah menganugerahkan kepada kita semua rezki yang lapang, halal dan berkah, serta terbebas dari lilitan hutang. Amin.
Catatan Kaki:
(1) Lihat Fiqh Muamalat (2/11), karya Wahbah Zuhaili.
(2) Lihat Muntaha Al-Iradat (I/197). Dikutip dari Mauqif Asy-Syari’ah Min Al-Masharif Al-Islamiyyah Al-Mu’ashirah, karya DR. Abdullah Abdurrahim Al-Abbadi, hal.29.
(3) HR. Bukhari dalam Kitab Al-Istiqradh, baba istiqradh Al-Ibil (no.2390), dan Muslim dalam kitab Al-musaqah, bab Man Istaslafa Syai-an Fa Qadha Khairan Minhu (no.1600).
(4) HR. Bukhari IV/608 (no.2305), dan Muslim VI/38 (no.4086).
(5) Lihat Tafsir Al-Quran Al-Azhim, III/316.
(6) Lihat Al-Fatawa Al-Kubra III/146,147.
(7) Lihat Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi, Shalih Al-Fauzan, II/51.
[Sumber: MAJALAH PENGUSAHA MUSLIM Edisi 12 Volume 1 / 15 November 2010]
Sedang si miskin pun, suka atau tidak , ada saja masalah yg dihadapinya, bahkan kejadian-kejadian yg memaksa dia harus berutang. Bagi si miskin yg tegar dan kuat iman , sedapat mungkin akan menghindari untuk berutang. Tapi jika si miskin yg suka mengeluh dan kurang iman, sudah menjadi kesenangan baginya meminta-minta . dengan sedikit musibahpun dibesar-besarkan demi menghiba memohon bantuan dan bedalih meminjam walau dihatinya tidak ada niat membayarnya.
Dalam ajaran Islam, utang-piutang adalah muamalah yang dibolehkan, tapi diharuskan untuk ekstra hati-hati dalam menerapkannya. Karena utang bisa mengantarkan seseorang ke dalam surga, dan sebaliknya juga menjerumuskan seseorang ke dalam neraka.
A. PENGERTIAN HUTANG PIUTANG:
Di dalam fiqih Islam, hutang piutang atau pinjam meminjam telah dikenal
dengan istilah Al-Qardh. Makna Al-Qardh secara etimologi (bahasa) ialah
Al-Qath’u yang berarti memotong. Harta yang diserahkan kepada orang yang
berhutang disebut Al-Qardh, karena merupakan potongan dari harta orang
yang memberikan hutang.(1)Sedangkan secara terminologis (istilah syar’i), makna Al-Qardh ialah menyerahkan harta (uang) sebagai bentuk kasih sayang kepada siapa saja yang akan memanfaatkannya dan dia akan mengembalikannya (pada suatu saat) sesuai dengan padanannya.(2)
Atau dengan kata lain, Hutang Piutang adalah memberikan sesuatu yang menjadi hak milik pemberi pinjaman kepada peminjam dengan pengembalian di kemudian hari sesuai perjanjian dengan jumlah yang sama. Jika peminjam diberi pinjaman Rp. 1.000.000 (satu juta rupiah) maka di masa depan si peminjam akan mengembalikan uang sejumlah satu juta juga.
B. HUKUM HUTANG PIUTANG:
Hukum Hutang piutang pada asalnya DIPERBOLEHKAN dalam syariat Islam. Bahkan orang yang memberikan hutang atau pinjaman kepada orang lain yang sangat membutuhkan adalah hal yang DISUKAI dan DIANJURKAN, karena di dalamnya terdapat pahala yang besar. Adapun dalil-dalil yang menunjukkan disyariatkannya hutang piutang ialah sebagaimana berikut ini:
Dalil dari Al-Qur’an adalah firman Allah swt;
“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 245)
Sedangkan dalil dari Al-Hadits adalah apa yang diriwayatkan dari Abu Rafi’ ra, bahwa Nabi saw pernah meminjam seekor unta kepada seorang lelaki. Aku datang menemui beliau membawa seekor unta dari sedekah. Beliau menyuruh Abu Rafi’ untuk mengembalikan unta milik lelaki tersebut. Abu Rafi’ kembali kepada beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah! Yang kudapatkan hanya-lah seekor unta ruba’i terbaik?” Beliau saw bersabda,
“Berikan saja kepadanya. Sesungguhnya orang yang terbaik adalah yang paling baik dalam mengembalikan hutang.” (3)
Nabi saw juga bersabda:
“Setiap muslim yang memberikan pinjaman kepada sesamanya dua kali, maka dia itu seperti orang yang bersedekah satu kali.” (HR. Ibnu Majah II/812 no.2430, dari Ibnu Mas’ud . Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Albani di dalam Irwa’ Al-ghalil Fi Takhrij Ahadits manar As-sabil (no.1389).)
Sementara dari Ijma’, para ulama kaum muslimin telah berijma’ tentang disyariatkannya hutang piutang (peminjaman).
C. PERINGATAN KERAS TENTANG HUTANG:Dari pembahasan di atas, kita telah mengetahui dan memahami bahwa hukum berhutang atau meminta pinjaman adalah DIPERBOLEHKAN, dan bukanlah sesuatu yang dicela atau dibenci, karena Nabi saw pernah berhutang.(4) Namun meskipun demikian, hanya saja Islam menyuruh umatnya agar menghindari hutang semaksimal mungkin jika ia mampu membeli dengan tunai atau tidak dalam keadaan kesempitan ekonomi. Karena hutang, menurut Rasulullah saw, merupakan penyebab kesedihan di malam hari dan kehinaan di siang hari. Hutang juga dapat membahayakan akhlaq, sebagaimana sabda Rasulullah saw(artinya): “Sesungguhnya seseorang apabila berhutang, maka dia sering berkata lantas berdusta, dan berjanji lantas memungkiri.” (HR. Bukhari).
Rasulullah pernah menolak menshalatkan jenazah seseorang yang diketahui masih meninggalkan hutang dan tidak meninggalkan harta untuk membayarnya. Rasulullah saw bersabda:
“Akan diampuni orang yang mati syahid semua dosanya, kecuali hutangnya.” (HR. Muslim III/1502 no.1886, dari Abdullah bin Amr bin Ash ).
Diriwayatkan dari Tsauban, mantan budak Rasulullahsaw, dari Rasulullah saw, bahwa Beliau bersabda
“Barangsiapa yang rohnya berpisah dari jasadnya dalam keadaan terbebas dari tiga hal, niscaya masuk surga: (pertama) bebas dari sombong, (kedua) dari khianat, dan (ketiga) dari tanggungan hutang.” (HR. Ibnu Majah II/806 no: 2412, dan At-Tirmidzi IV/138 no: 1573. Dan di-shahih-kan oleh syaikh Al-Albani).
Dari Abu Hurairah , bahwa Rasulullah saw bersabda:
“oJiwa rang mukmin bergantung pada hutangnya hingga dilunasi.” (HR. Ibnu Majah II/806 no.2413, dan At-Tirmidzi III/389 no.1078. dan di-shahih-kan oleh syaikh Al-Albani).
Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan menanggung hutang satu Dinar atau satu Dirham, maka dibayarilah (dengan diambilkan) dari kebaikannya; karena di sana tidak ada lagi Dinar dan tidak (pula) Dirham.” (HR. Ibnu Majah II/807 no: 2414. dan di-shahih-kan oleh syaikh Al-Albani).
Dari Abu Qatadah , bahwasannya Rasulullah pernah berdiri di tengah-tengah para sahabat, lalu Beliau mengingatkan mereka bahwa jihad di jalan Allah dan iman kepada-Nya adalah amalan yang paling afdhal. Kemudian berdirilah seorang sahabat, lalu bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku gugur di jalan Allah, apakah dosa-dosaku akan terhapus dariku?” Maka jawab Rasulullah kepadanya “Ya, jika engkau gugur di jalan Allah dalam keadaan sabar mengharapkan pahala, maju pantang melarikan diri.” Kemudian Rasulullah bersabda: “Melainkan hutang, karena sesungguhnya Jibril ’alaihissalam menyampaikan hal itu kepadaku.” (HR. Muslim III/1501 no: 1885, At-Tirmidzi IV/412 no:1712, dan an-Nasa’i VI: 34 no.3157. dan di-shahih-kan oleh syaikh Al-Albani dalam Irwa-ul Ghalil no: 1197).
D. SYARAT PIUTANG MENJADI AMAL SHOLIH?
1. Harta yang dihutangkan adalah harta yang jelas dan murni kehalalannya, bukan harta yang haram atau tercampur dengan sesuatu yang haram.
2. Pemberi piutang / pinjaman tidak mengungkit-ungkit atau menyakiti penerima pinjaman baik dengan kata-kata maupun perbuatan.
3. Pemberi piutang/pinjaman berniat mendekatkan diri kepada Allah swt dengan ikhlas, hanya mengharap pahala dan ridho dari-Nya semata. Tidak ada maksud riya’ (pamer) atau sum’ah (ingin didengar kebaikannya oleh orang lain).
4. Pinjaman tersebut tidak mendatangkan tambahan manfaat atau keuntungan sedikitpun bagi pemberi pinjaman.
E. BEBERAPA ADAB ISLAMI DALAM HUTANG PIUTANG:
Bagaimana Islam mengatur berhutang-piutang yang membawa pelakunya ke surga dan menghindarkan dari api neraka? Perhatikanlah adab-adabnya di bawah ini:
[1]. Hutang piutang harus ditulis dan dipersaksikan.
Dalilnya firman Allah swt:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Rabbnya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tidak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil, dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli ; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit-menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian) maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah ; Allah mengajarmu ; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS. Al-Baqarah: 282)
Berkaitan dengan ayat ini, Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “ini merupakan petunjuk dari-Nya untuk para hamba-Nya yang mukmin. Jika mereka bermu’amalah dengan transaksi non tunai, hendaklah ditulis, agar lebih terjaga jumlahnya dan waktunya dan lebih menguatkan saksi. Dan di ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan salah satu ayat: “Hal itu lebih adil di sisi Allah dan memperkuat persaksian dan agar tidak mendatangkan keraguan”. (5)
[2]. Pemberi hutang atau pinjaman tidak boleh mengambil keuntungan atau manfaat dari orang yang berhutang.
Kaidah fikih berbunyi:
“Setiap hutang yang membawa keuntungan, maka hukumnya riba”. Hal ini terjadi jika salah satunya mensyaratkan atau menjanjikan penambahan.
Dengan kata lain, bahwa pinjaman yang berbunga atau mendatangkan manfaat apapun adalah haram berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijma’ para ulama. Keharaman itu meliputi segala macam bunga atau manfaat yang dijadikan syarat oleh orang yang memberikan pinjaman kepada si peminjam. Karena tujuan dari pemberi pinjaman adalah mengasihi si peminjam dan menolongnya. Tujuannya bukan mencari kompensasi atau keuntungan.(6) Dengan dasar itu, berarti pinjaman berbunga yang diterapkan oleh bank-bank maupun rentenir di masa sekarang ini jelas-jelas merupakan riba yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. sehingga bisa terkena ancaman keras baik di dunia maupun di akhirat dari Allah swt.
Syaikh Shalih Al-Fauzan –hafizhahullah- berkata : “Hendaklah diketahui, tambahan yang terlarang untuk mengambilnya dalam hutang adalah tambahan yang disyaratkan. (Misalnya), seperti seseorang mengatakan, “saya beri anda hutang dengan syarat dikembalikan dengan tambahan sekian dan sekian, atau dengan syarat anda berikan rumah atau tokomu, atau anda hadiahkan kepadaku sesuatu”. Atau juga dengan tidak dilafadzkan, akan tetapi ada keinginan untuk ditambah atau mengharapkan tambahan, inilah yang terlarang, adapun jika yang berhutang menambahnya atas kemauan sendiri, atau karena dorongan darinya tanpa syarat dari yang berhutang ataupun berharap, maka tatkala itu, tidak terlarang mengambil tambahan.(7)
[3]. Melunasi hutang dengan cara yang baik
Hal ini sebagaimana hadits berikut ini:
Dari Abu Hurairah , ia berkata: “Nabi mempunyai hutang kepada seseorang, (yaitu) seekor unta dengan usia tertentu. Orang itupun datang menagihnya. (Maka) beliaupun berkata, “Berikan kepadanya” kemudian mereka mencari yang seusia dengan untanya, akan tetapi mereka tidak menemukan kecuali yang lebih berumur dari untanya. Nabi (pun) berkata: “Berikan kepadanya”, Dia pun menjawab, “Engkau telah menunaikannya dengan lebih. Semoga Allah swt membalas dengan setimpal”. Maka Nabi saw bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik dalam pengembalian (hutang)”. (HR. Bukhari, II/843, bab Husnul Qadha’ no. 2263.)
Dari Jabir bin Abdullah ia berkata: “Aku mendatangi Nabi saw di masjid, sedangkan beliau mempunyai hutang kepadaku, lalu beliau membayarnya dam menambahkannya”. (HR. Bukhari, II/843, bab husnul Qadha’, no. 2264)
Termasuk cara yang baik dalam melunasi hutang adalah melunasinya tepat pada waktu pelunasan yang telah ditentukan dan disepakati oleh kedua belah pihak (pemberi dan penerima hutang), melunasi hutang di rumah atau tempat tinggal pemberi hutang, dan semisalnya.
[4]. Berhutang dengan niat baik dan akan melunasinya
Jika seseorang berhutang dengan tujuan buruk, maka dia telah berbuat zhalim dan dosa. Diantara tujuan buruk tersebut seperti:
a). Berhutang untuk menutupi hutang yang tidak terbayar
b). Berhutang untuk sekedar bersenang-senang
c). Berhutang dengan niat meminta. Karena biasanya jika meminta tidak diberi, maka digunakan istilah hutang agar mau memberi.
d). Berhutang dengan niat tidak akan melunasinya.
Dari Abu Hurairah , ia berkata bahwa Nabi bersabda: “Barangsiapa yang mengambil harta orang lain (berhutang) dengan tujuan untuk membayarnya (mengembalikannya), maka Allah akan tunaikan untuknya. Dan barangsiapa mengambilnya untuk menghabiskannya (tidak melunasinya, pent), maka Allah swt akan membinasakannya”. (HR. Bukhari, II/841 bab man akhodza amwala an-naasi yuridu ada’aha, no. 2257)
Hadits ini hendaknya ditanamkan ke dalam diri sanubari yang berhutang, karena kenyataan sering membenarkan sabda Nabi saw di atas. Berapa banyak orang yang berhutang dengan niat dan tekad untuk menunaikannya, sehingga Allah pun memudahkan baginya untuk melunasinya. Sebaliknya, ketika seseorang bertekad pada dirinya, bahwa hutang yang dia peroleh dari seseorang tidak disertai dengan niat yang baik, maka Allah swt membinasakan hidupnya dengan hutang tersebut. Allah swt melelahkan badannya dalam mencari, tetapi tidak kunjung dapat. Dan dia letihkan jiwanya karena memikirkan hutang tersebut. Kalau hal itu terjadi di dunia yang fana, bagaimana dengan akhirat yang kekal nan abadi?
[5]. Berupaya untuk berhutang dari orang sholih yang memiliki profesi dan penghasilan yang halal.
Sehingga dengan meminjam harta atau uang dari orang sholih dapat menenangkan jiwa n menjauhkannnya dari hal-hal yang kotor dan haram. Sehingga harta pinjaman tersebut ketika kita gunakan untuk suatu hajat menjadi berkah dan mendatangkan ridho Allah swt.
Sedangkan orang yang jahat atau buruk tidak dapat menjamin penghasilannya bersih dan bebas dari hal-hal yang haram.
[6]. Tidak berhutang kecuali dalam keadaan darurat atau mendesak.
Maksudnya kondisi yang tidak mungkin lagi baginya mencari jalan selain berhutang sementara keadaan sangat mendesak, jika tidak akan kelaparan atau sakit yang mengantarkannya kepada kematian, atau semisalnya.
Tidak sepantasnya berhutang untuk membeli rumah baru, kendaraan, laptop model terbaru, atau sejenisnya dengan maksud berbangga-banggaan atau menjaga kegengsian dalam gaya hidup. Padahal dia sudah punya harta atau penghasilan yang mencukupi kebutuhan pokoknya.
[7]. Tidak boleh melakukan jual beli yang disertai dengan hutang atau peminjaman
Mayoritas ulama menganggap perbuatan itu tidak boleh. Tidak boleh memberikan syarat dalam pinjaman agar pihak yang berhutang menjual sesuatu miliknya, membeli, menyewakan atau menyewa dari orang yang menghutanginya. Dasarnya adalah sabda Nabi :
“Tidak dihalalkan melakukan peminjaman plus jual beli.” (HR. Abu Daud no.3504, At-Tirmidzi no.1234, An-Nasa’I VII/288. Dan At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih”.)
Yakni agar transaksi semacam itu tidak dimanfaatkan untuk mengambil bunga yang diharamkan.
[8]. Jika terjadi keterlambatan karena kesulitan keuangan, hendaklah orang yang berhutang memberitahukan kepada orang yang memberikan pinjaman.
Karena hal ini termasuk bagian dari menunaikan hak yang menghutangkan.
Janganlah berdiam diri atau lari dari si pemberi pinjaman, karena akan memperparah keadaan, dan merubah hutang, yang awalnya sebagai wujud kasih sayang, berubah menjadi permusuhan dan perpecahan.
[9]. Menggunakan uang pinjaman dengan sebaik mungkin. Menyadari, bahwa pinjaman merupakan amanah yang harus dia kembalikan.
Dari Samurah , Nabi saw bersabda: “Tangan bertanggung jawab atas semua yang diambilnya, hingga dia menunaikannya”. (HR. Abu Dawud dalam Kitab Al-Buyu’, Tirmidzi dalam kitab Al-buyu’, dan selainnya.)
[10]. Diperbolehkan bagi yang berhutang untuk mengajukan pemutihan atas hutangnya atau pengurangan, dan juga mencari perantara (syafa’at) untuk memohonnya.
Hal ini sebagaimana hadits berikut ini (artinya):
Dari Jabir bin Abdullah , ia berkata: (Ayahku) Abdullah meninggal dan dia meninggalkan banyak anak dan hutang. Maka aku memohon kepada pemilik hutang agar mereka mau mengurangi jumlah hutangnya, akan tetapi mereka enggan. Akupun mendatangi Nabi saw meminta syafaat (bantuan) kepada mereka. (Namun) merekapun tidak mau. Beliau berkata, “Pisahkan kormamu sesuai dengan jenisnya. Tandan Ibnu Zaid satu kelompok. Yang lembut satu kelompok, dan Ajwa satu kelompok, lalu datangkan kepadaku.” (Maka) akupun melakukannya. Beliau pun datang lalu duduk dan menimbang setiap mereka sampai lunas, dan kurma masih tersisa seperti tidak disentuh. (HR. Bukhari kitab Al-Istiqradh, no. 2405)
[11]. Bersegera melunasi hutang
Orang yang berhutang hendaknya ia berusaha melunasi hutangnya sesegera mungkin tatkala ia telah memiliki kemampuan untuk mengembalikan hutangnya itu. Sebab orang yang menunda-menunda pelunasan hutang padahal ia telah mampu, maka ia tergolong orang yang berbuat zhalim. Sebagaimana hadits berikut:
Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Memperlambat pembayaran hutang yang dilakukan oleh orang kaya merupakan perbuatan zhalim. Jika salah seorang kamu dialihkan kepada orang yang mudah membayar hutang, maka hendaklah beralih (diterima pengalihan tersebut)”. (HR. Bukhari dalam Shahihnya IV/585 no.2287, dan Muslim dalam Shahihnya V/471 no.3978, dari hadits Abu Hurairah .)
[12]. Memberikan Penangguhan waktu kepada orang yang sedang kesulitan dalam melunasi hutangnya setelah jatuh tempo.
Allah swt berfirman:
“Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, Maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 280).
Diriwayatkan dari Abul Yusr, seorang sahabat Nabi, ia berkata, Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa yang ingin dinaungi Allah dengan naungan-Nya (pada hari kiamat, pen), maka hendaklah ia menangguhkan waktu pelunasan hutang bagi orang yang sedang kesulitan, atau hendaklah ia menggugurkan hutangnya.” (HR Ibnu Majah II/808 no. 2419. Dan di-shahih-kan oleh syaikh Al-Albani)
Dari sahabat Hudzaifah, beliau pernah mendengar Rasulullah bersabda:
“Ada seorang laki-laki yang hidup di zaman sebelum kalian. Lalu datanglah seorang malaikat maut yang akan mencabut rohnya. Dikatakan kepadanya (oleh malaikat maut): “Apakah engkau telah berbuat kebaikan?” Laki-laki itu menjawab: “Aku tidak mengetahuinya.” Malaikat maut berkata: “ Telitilah kembali apakah engkau telah berbuat kebaikan.” Dia menjawab: “Aku tidak mengetahui sesuatu pun amalan baik yang telah aku lakukan selain bahwa dahulu aku suka berjual beli barang dengan manusia ketika di dunia dan aku selalu mencukupi kebutuhan mereka. Aku memberi keluasan dalam pembayaran hutang bagi orang yang memiliki kemampuan dan aku membebaskan tanggungan orang yang kesulitan.” Maka Allah (dengan sebab itu) memasukkannya ke dalam surga.” (HR. Bukhari III/1272 no.3266)
Demikian penjelasan singkat tentang beberapa adab Islami dalam hutang piutang. Semoga menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Dan semoga Allah menganugerahkan kepada kita semua rezki yang lapang, halal dan berkah, serta terbebas dari lilitan hutang. Amin.
Catatan Kaki:
(1) Lihat Fiqh Muamalat (2/11), karya Wahbah Zuhaili.
(2) Lihat Muntaha Al-Iradat (I/197). Dikutip dari Mauqif Asy-Syari’ah Min Al-Masharif Al-Islamiyyah Al-Mu’ashirah, karya DR. Abdullah Abdurrahim Al-Abbadi, hal.29.
(3) HR. Bukhari dalam Kitab Al-Istiqradh, baba istiqradh Al-Ibil (no.2390), dan Muslim dalam kitab Al-musaqah, bab Man Istaslafa Syai-an Fa Qadha Khairan Minhu (no.1600).
(4) HR. Bukhari IV/608 (no.2305), dan Muslim VI/38 (no.4086).
(5) Lihat Tafsir Al-Quran Al-Azhim, III/316.
(6) Lihat Al-Fatawa Al-Kubra III/146,147.
(7) Lihat Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi, Shalih Al-Fauzan, II/51.
[Sumber: MAJALAH PENGUSAHA MUSLIM Edisi 12 Volume 1 / 15 November 2010]
Sabtu, 10 September 2011
Tips Merawat Sepatu Anda
Selain sebagai alas untuk kaki kita, sepatu juga dianggap sebagai menjadi penyempurna penampilan. Oleh karenanya, seperti aksesoris lainnya, sepatu perlu dirawat dengan baik. Bagaimana cara merawat sepatu yang baik? Berikut tips dari kami- Untuk sepatu yang berbahan kulit, simpanlah di tempat yang kering. Hindari menjemur sepatu kulit di bawah terik matahari, sepatu kulit cukup diangin-anginkan saja agar tidak menjadi lembab dan berjamur.
- Untuk pengeringan, sepatu kulit jangan dilap dengan menggunakan air dan gunakan bahan lembut untuk mengelapnya. Khusus untuk sepatu berwarna putih, ada baiknya dilap dengan memakai odol putih hingga merata agar kulit sepatu tidak pecah-pecah dan tampil lebih awet.
- Untuk sepatu yang berbahan suede, hindari sepatu terkena air secara langsung. Sikatlah sepatu dengan sikat yang halus agar debu yang menempel dapat dihilangkan. Kemudian jemur sepatu ditempat yang tidak terkena sinar matahari secara langsung.
- Jangan lupa untuk memakai obat khusus penyemprot sepatu atau foot spray pada bagian dalam sepatu Anda dan segera angin-anginkan agar kering.
- Apabila kaki Anda selalu berkeringat, sebaiknya keringkan dahulu. Kemudian taburi kaki dengan bedak talc supaya kaki Anda tetap kering dan segar kondisinya.
- Bagaimana mencegah agar sepatu tidak berbau? Jangan memakai sepatu dengan kondisi kaki yang sedang basah. Sebab kaki yang basah dan lembab dapat menyebabkan bakteri berkembang biak dan akhirnya sepatu Anda berbau tidak sedap.
Selasa, 06 September 2011
Hadist Qudsi
[HQ.1.1] …. Aku bertanya kepada Hudzaifah tentang Ikhlas, apakah dia ? Jawabnya: Aku sudah bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang ikhlas, apakah dia ? Beliau Saw. bersabda: “Aku sudah bertanya kepada Jibril. Jawabnya, Aku sudah bertanya kepada Tuhan Keagungan tentang Ikhlas, apakah dia. Allah berfirman:
Salah satu rahasia dari rahasia-Ku, Aku mempercayakannya kepada qalb siapa yang Aku cintai dari antara hamba-hamba-Ku.”
[HQ.1.2] Berkata Abu Hurairah dan juga Abu Umamah ra.: Bahwasanya Nabi saw. telah bersabda: “Allah berfirman:
Apabila Allah menjadikan ’aql, lalu berkata kepadanya: Mari hai ’aql ! Maka mendatanglah ia. Lalu Allah berkata kepadanya lagi: Pergilah hai ’aql ! Maka pergilah ia. Kemudian Dia berfirman : Aku tiada mencipta sesuatu ciptaan yang lebih Kucintai daripada kau. Aku akan mengambil dengan engkau kau dan dengan engkau pula Aku memberi.”
[HR Thabarani] [AS269]
Dalam riwayat lain, selanjutnya Allah bertanya kepada `aql, ”Siapakah Aku…..?” `Aql-pun menjawab, ”Engkau adalah Allah, yang tiada Tuhan selain Engkau. Hanya kepada-Mu-lah aku bersyukur serta patuh dan taat. Engkaulah yang memberi ganjaran dan yang menghitung amal setiap orang.”
[HQ.1.3] … Imam Abi Ja’far berkata:
Ketika Allah menciptakan ’aql Dia memanggil ’aql itu dan ’aql pun datang. Dia menyuruh ‘aql pergi maka pergilah ia. Kemudian Allah berfirman kepada ‘aql: ”Demi Kebesaran dan Kemuliaan Ku, Aku tidak menciptakan sesuatu makhluk yang lebih Aku sayangi daripada kamu dan tidak Aku sempurnakan engkau melainkan pada orang-orang yang Aku cintai. Kepadamulah Aku akan menyuruh, melarang, menyiksa serta memberi pahala”.
[sumber : Telaah ’aql dalam hadis-hadis al Kafi, terjemah Kitab Hadis Ahlul Bayt (Ushul Kafi) bab ‘aql dan jahl – Husein al Habsyi hal. 43]
[HQ.1.4]….. Orang bertanya kepada Rasulullah saw., ”Wahai Rasulullah ! Dimanakah Allah ? Di bumi atau di langit ?” Rasulullah saw. menjawab, ”Allah Ta’ala berfirman:
Tidak termuat AKU oleh bumi-Ku dan lelangit-KU dan termuat Aku oleh qalb hamba-hamba-Ku yang mu’min, yang lemah-lembut, yang tenang tenteram.
[ dalam keterangan lain : ]
Sesungguhnya semua petala langit dan bumi akan menjadi sempit untuk merangkul-Ku akan tetapi Aku mudah untuk direngkuh oleh qalb seorang mukmin.
Berkata Wahab bin Munabbih, bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda: “Allah Ta’ala telah berfirman:
Sesungguhnya semua petala langit-Ku dan bumi-Ku menjadi sempit untuk merangkul-Ku, akan tetapi Aku mudah untuk dirangkul oleh qalb hamba-Ku yang mu’min.”
[HR Ahmad] [AS32]
[HQ.1.5] Rasulullah saw bersabda: “Allah Swt. telah berfirman:
Tiada seorang hamba yang ber-taqorrub [mendekatkan diri] kepada-KU seperti dia menunaikan segala ke-fardhu-an-Ku ke atas dirinya. Dan sesungguhnya dia akan mendekatkan diri kepada-Ku dengan memperbanyak nawafil (sunnah) sehingga AKU mencintainya. Maka apabila sudah AKU mencintainya jadilah AKU umpama kaki yang ia berjalan dengannya dan tangan yang ia memukul dengannya dan lidah yang ia berucap dengannya dan hati yang ia berfikir dengannya. Dan apabila ia memohon-Ku niscaya AKU akan memberinya dan apabila dia berdoa kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkannya”
[HR. Ibnus Sunni] [AS132]
[HQ.1.6] Dari Abu Hurayrah r.a., katanya: Bersabda Rasulullah Saw.: “Berfirman Allah Yang Maha Agung:
Aku berada dalam sangkaan hamba-Ku tentang Aku, dan Aku bersama-nya ketika ia menyebut Aku. Bila ia menyebut Aku dalam dirinya, Aku menyebut dia dalam Diri-Ku. Bila ia menyebut Aku dalam khalayak, Aku menyebut dia dalam khalayak yang lebih baik dari itu.
Bila ia mendekat kepada-Ku satu jengkal, Aku mendekat kepadanya satu hasta. Bila ia mendekat kepada-Ku satu hasta, Aku mendekat kepadanya satu depa. Bila ia datang kepada-Ku berjalan kaki, Aku datang kepadanya berlari-lari.”
[HR Al-Bukhari, Muslim, Ibn Majah, At-Tirmidzi, Ibn Hanbal] [IA27]
[HQ.1.7] Dari Mu’adz ibn Jabal r.a., katanya: Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda:”Berfirman Allah Yang Maha Mulia dan Luhur:
Mereka yang berkasih-sayang demi Keluhuran-Ku, bagi mereka mimbar-mimbar cahaya yang menyebabkan para An-Nabi dan para Asy-Syuhada iri kepada mereka.”
[HR At Tirmidzi] [IA33]
[HQ.1.8] Dari Ali ibn Abi Thalib kwh.: Rasulullah Saw. bersabda: “Berfirman Allah Ta’ala:
Barangsiapa berharap (rajaa) kepada selain Aku tidak mengenal-Ku (ya’arifniy). Barangsiapa tidak mengenal-Ku tidak mengabdi-kepada-Ku (ya’abudniy). Barangsiapa tidak mengabdi-kepada-Ku, maka berarti menjadi-wajiblah (i’stawjaba) kemurkaan-Ku. Barangsiapa takut (khauf) kepada selain Aku, halal baginya pembalasan-Ku.”
[IA22]
[HQ.1.9] Aku bersaksi atas Abu Sa’id dan Abu Hurayrah, bahwa mereka bersaksi atas Nabi Saw., bahwa Beliau Saw. bersabda:
“Barangsiapa mengatakan: ‘Laa ilaaha illallah wallahu akbar’, Allah membenarkan dia dan berfirman: ’Tidak ada tuhan kecuali Aku’ dan ‘Aku Maha Besar’. Bila ia berkata: ’laa ilaaha illallahu wahdah’, Allah berfirman: ‘Tidak ada tuhan kecuali Aku sendiri’. Jika ia berkata: ‘laa ilaaha illallahu wahdahu laa syarikallah’ , Allah berfirman: ‘Tidak tuhan kecuali Aku Sendiri dan tidak ada sekutu bagi-Ku’. Bila ia berkata: ‘laa ilaaha illal-Lah, lahu-l-mulku wa lahu-l-hamdu’, Allah berfirman: ‘Tidak ada tuhan kecuali Aku, bagi-Ku kerajaan-Ku dan bagi-Ku segala puji’. Bila ia berkata: ’laa ilaaha illal-Lah, laa hawla walaa quwwata illa billah’, Allah berfirman: ‘Tidak ada tuhan kecuali Aku, tidak ada upaya dan tidak pula kekuatan kecuali dengan izin-Ku’.
Nabi Saw. bersabda: ‘Barangsiapa mengucapkannya di dalam sakitnya, kemudian mati, ia tidak dimakan api neraka.’”
[HR At-Tirmidzi]
[HQ.1.10] Dari Abu Hurayrah r.a., Rasulullah Saw. bersabda: Berfirman Allah Yang Maha Agung dan Luhur:
“Sudah Kupersiapkan untuk hamba-Ku yang Shalih apa yang tidak pernah mata melihatnya, tidak pernah telinga mendengarnya dan tidak bisa dibayangkan manusia.”
[HR Al Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, Ibn Majah, Ad Darimi] [Relung Cahaya, Ibn Arabi, Hadis ke 21] [AS27,31]
[HQ.1.11] Dari Abu Hurayrah r.a., Rasulullah Saw. bersabda: Berfirman Allah Yang Maha Besar dan Agung:
“Dari segala yang dipersekutukan, Akulah yang paling tidak butuh kepada persekutuan. Maka barangsiapa dalam pekerjaannya menyekutukan Aku dengan yang lain, Aku lepas daripadanya, sedang ia milik yang ia persekutukan.”
[HR Ibn Majah] [IA2]
[HQ.1.12] Dari Abu Umamah r.a., Rasulullah Saw. bersabda: Berfirman Allah Yang Maha Besar dan Agung:
“Diantara para wali-Ku di hadirat-Ku, yang paling menerbitkan iri-hati ialah si mu’min yang kurang hartanya, yang menemukan nasib hidupnya dalam sembahyang, yang paling baik ibadat kepada Tuhannya, dan taat kepada-Nya dalam keadaan tersembunyi maupun terang. Ia tak terlihat di antara khalayak, tak tertuding dengan telunjuk. Rezekinya pas-pasan, tetapi iapun sabar dengan hal itu.”
Kemudian Beliau Saw. menjentikkan jarinya, lalu bersabda: ”Kematiannya dipercepat, tangisnya hanya sedikit dan peninggalannya amat kurangnya.”
[HR At Tirmidzi, Ibn Majah, Ibn Hanbal] [IA3]
[HQ.1.13] Dari Abu Umamah Al Bahili r.a., bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda: “Allah telah berfirman:
Sebaik-baik persembahan yang dapat diberikan hamba-Ku kepada-Ku ialah menyampaikan nasehat karena Aku.”
[HR Ahmad, Hakim, Abu Nu’aim] [AS7]
[HQ.1.14] Dari Anas r.a., bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda: “Berfirman Allah Ta’ala:
Ada empat perkara. Satu yang menyangkut hubungan Aku dengan engkau. Satu lagi yang menyangkut hubungan antara engkau dengan hamba-hamba-Ku. Satu yang lan untuk Aku, dan yang satu lagi untuk engkau.
Adapun yang untuk Aku, hendaklah engkau mengabdi Aku tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatupun. Yang menyangkut dirimu, maka apa saja yang engkau kerjakan dari kebajikan, Aku akan memberikan balasannya. Yang menyangkut antara Aku dengan engkau, ialah hendaklah engkau memohon (berdoa kepada) Aku dan Aku mengabulkan engkau. Dan yang menyangkut antara engkau dengan hamba-hamba-Ku, hendaklah engkau merelakan [ridhokan] bagi mereka apa yang engkau merelakan [ridhokan] bagi dirimu.”
[HR Abu Nu’aim] [AS25]
[HQ.1.15] Berkata Umarah bin Daskarah r.a., bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda: “Allah Ta’ala telah berfirman:
Sesungguhnya hamba-Ku itu ialah setiap orang yang mengingati-Ku, di waktu dia sedang menemui lawannya (di medan perang).”
[HR Tirmidzi] [AS40]
[HQ.1.16] Berkata Siti `Aisyah r.a., bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda: “Allah Ta’ala telah berfirman:
Sesungguhnya Aku telah berjanji dengan DzatKu terhadap hamba-Ku, bahwa apabila dia menunaikan shalat tepat pada waktunya, niscaya Aku tidak akan menyiksanya, dan bahwa Aku akan memasukkannya ke dalam surga tanpa hisab lagi.”
[HR Hakim] [AS41]
[HQ.1.17] Dari Uqbah ibn Amir ra. berkata, aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: “Tuhanmu kagum terhadap pengembala kambing di ujung bukit yang di kala didengungkan adzan ia mendirikan Sholat. Lalu Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman:
Lihatlah hamba-Ku ini, didengungkan adzan kemudian ia shalat karena takut (khoofu) terhadap-Ku, Aku telah mengampuni hamba-Ku dan memasukkannya ke sorga.”
[Hadis ini ditakhrijkan oleh An Nasa’i] [MZ12]
[HQ.1.18] Dari Abu Hurairah ra, Nabi Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman:
“Wahai anak Adam, luangkanlah waktu untuk ibadah kepada-Ku maka Aku isi dadamu dengan kekayaan dan Aku tutup kekafiranmu. Jika tidka demikian maka Aku isikan kesibukan di mukamu dan Aku tidak menutup kefakiranmu”.
[Hadis ini di takhrijkan oleh At Tirmidzi] [MZ11]
[HQ.1.19] Dari Abu Hurayrah r.a., bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda: “Berfirman Allah Ta’ala:
Apabila Aku menimpakan bala ke atas hamba-Ku yang mu’min, lalu ia bersabar (atas penderitaan itu), tiada ia mengadu atau mengeluh kepada pengunjung-pengunjungnya, niscaya akan Aku lepaskan dia dari tahanan-Ku (penderitaan itu), kemudian Aku tukarkan dagingnya dengan daging yang lebih baik, dan darahnya dengan darah yang lebih baik, sehingga ia dapat bekerja semula (yakni: setelah semua dosa dan kesalahan yang lalu Allah ampunkan semuanya).”
[HR Al Hakim] [AS9]
[HQ.1.20] Berkata Abu Dardanas r.a., bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda: “Allah Ta’ala telah berfirman:
Jika hamba-Ku mengeluh dan mengadukan penyakitnya sebelum tiga hari, maka ia telah mengadukan Aku.”
[HR Thabarani] [AS24]
[HQ.1.21] Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya ia bersama dengan Rasulullah Saw. menjenguk orang yang sakit karena demam, lalu Rasulullah Saw. bersabda: “Bergembiralah, karena Allah telah berfirman:
Itu adalah api-Ku, yang Aku kuasakan terhadap hamba-Ku yang mu’min di dunia agar menduduki (sebagai pengganti) bagian apinya di akhirat.”
[Hadis ini ditakhrijkan oleh Ibnu Majah.] [MZ207]
[HQ.1.22] Berkata Abu Umamah ra. bahwasanya Nabi Saw bersabda: ”Allah telah berfirman:
Wahai Malaikat-ku. Pergilah kepada hamba-Ku, dan timpakan ke atasnya bala”
Maka para Malaikat pun menimpakan bala ke atasnya dan orang itu memuji Allah. Para Malaikat lalu kembali mengatakan, ”Wahai Tuhan kami ! Kami telah menimpakan atasnya sebagaimana yang Engkau perintahkan.
Berfirman Tuhan: ”Kembali semula kepadanya, Aku ingin mendengar apa katanya.”
[HR Thabarani] [AS76]
[HQ.1.23] Berkata Anas ra. bahwasanya Nabi Saw bersabda: ”Allah telah berfirman:
Jika Aku menimpakan suatu mushibah ke atas salah seorang hamba-Ku pada badannya, atau hartanya, atau anaknya, lalu dia menerima mushibah itu dengan penuh kesabaran, niscaya di hari kiamat Aku malu akan menegakkan baginya neraca timbangan atau membuka buku catatan amalnya.”
[HR Qudha’i] [Dailami, Hakim, Tirmidzi] [AS14]
[HQ.1.24] Berkata Abul Asy’ats Ash-Shan’aani ra. bahwasanya Nabi Saw. bersabda: “Allah telah berfirman:
Sekiranya Aku uji salah seorang hamba-Ku yang mu’min, lalu ia memuji-Ku atas apa yang telah Aku ujikan itu (niscaya Aku akan perintahkan kepada Malaikat-Ku agar) berilah pahala yang bersambungan baginya, sebagaimana pahala yang biasa kalian berikan.”
[HR. Ahmad dan Thabarani] [AS11][PD8] [Mohon periksa terjemahannya]
[HQ.1.25] Berkata Syaddad bin Aus ra. bahwasanya Nabi Saw. bersabda: “Allah telah berfirman:
Sekiranya Aku uji salah seorang hamba-Ku yang mu’min, lalu ia memuji-Ku seraya bersabar atas (penderitaan) apa yang Aku mengujinya. Maka ia akan bangun dari tempat pembaringannya, bagaikan anak yang baru dilahirkan oleh ibunya, bersih dari dosa. Lantas Tuhan akan memerintahkan malaikat Pencatat Amal: Sesungguhnya Aku telah menahan hamba-Ku ini dan Aku telah menguinya, maka kini catatkanlah baginya apa yang kamu selalu catatkan sebelum itu dari pahala-pahala amalannya.”
[HR. Ahmad] [AS13]
[HQ.1.26] Berkata Ibnu Mas’ud ra. bahwasanya Nabi Saw. telah bersabda: ”Allah telah berfirman:
Wahai dunia ! Pahitkanlah kehidupan para kekasih-Ku, janganlah sekali-sekali engkau memaniskannya, kelak engkau akan memfitnahinya.”
[HR. Qudha’i] AS195]
Salah satu rahasia dari rahasia-Ku, Aku mempercayakannya kepada qalb siapa yang Aku cintai dari antara hamba-hamba-Ku.”
[HQ.1.2] Berkata Abu Hurairah dan juga Abu Umamah ra.: Bahwasanya Nabi saw. telah bersabda: “Allah berfirman:
Apabila Allah menjadikan ’aql, lalu berkata kepadanya: Mari hai ’aql ! Maka mendatanglah ia. Lalu Allah berkata kepadanya lagi: Pergilah hai ’aql ! Maka pergilah ia. Kemudian Dia berfirman : Aku tiada mencipta sesuatu ciptaan yang lebih Kucintai daripada kau. Aku akan mengambil dengan engkau kau dan dengan engkau pula Aku memberi.”
[HR Thabarani] [AS269]
Dalam riwayat lain, selanjutnya Allah bertanya kepada `aql, ”Siapakah Aku…..?” `Aql-pun menjawab, ”Engkau adalah Allah, yang tiada Tuhan selain Engkau. Hanya kepada-Mu-lah aku bersyukur serta patuh dan taat. Engkaulah yang memberi ganjaran dan yang menghitung amal setiap orang.”
[HQ.1.3] … Imam Abi Ja’far berkata:
Ketika Allah menciptakan ’aql Dia memanggil ’aql itu dan ’aql pun datang. Dia menyuruh ‘aql pergi maka pergilah ia. Kemudian Allah berfirman kepada ‘aql: ”Demi Kebesaran dan Kemuliaan Ku, Aku tidak menciptakan sesuatu makhluk yang lebih Aku sayangi daripada kamu dan tidak Aku sempurnakan engkau melainkan pada orang-orang yang Aku cintai. Kepadamulah Aku akan menyuruh, melarang, menyiksa serta memberi pahala”.
[sumber : Telaah ’aql dalam hadis-hadis al Kafi, terjemah Kitab Hadis Ahlul Bayt (Ushul Kafi) bab ‘aql dan jahl – Husein al Habsyi hal. 43]
[HQ.1.4]….. Orang bertanya kepada Rasulullah saw., ”Wahai Rasulullah ! Dimanakah Allah ? Di bumi atau di langit ?” Rasulullah saw. menjawab, ”Allah Ta’ala berfirman:
Tidak termuat AKU oleh bumi-Ku dan lelangit-KU dan termuat Aku oleh qalb hamba-hamba-Ku yang mu’min, yang lemah-lembut, yang tenang tenteram.
[ dalam keterangan lain : ]
Sesungguhnya semua petala langit dan bumi akan menjadi sempit untuk merangkul-Ku akan tetapi Aku mudah untuk direngkuh oleh qalb seorang mukmin.
Berkata Wahab bin Munabbih, bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda: “Allah Ta’ala telah berfirman:
Sesungguhnya semua petala langit-Ku dan bumi-Ku menjadi sempit untuk merangkul-Ku, akan tetapi Aku mudah untuk dirangkul oleh qalb hamba-Ku yang mu’min.”
[HR Ahmad] [AS32]
[HQ.1.5] Rasulullah saw bersabda: “Allah Swt. telah berfirman:
Tiada seorang hamba yang ber-taqorrub [mendekatkan diri] kepada-KU seperti dia menunaikan segala ke-fardhu-an-Ku ke atas dirinya. Dan sesungguhnya dia akan mendekatkan diri kepada-Ku dengan memperbanyak nawafil (sunnah) sehingga AKU mencintainya. Maka apabila sudah AKU mencintainya jadilah AKU umpama kaki yang ia berjalan dengannya dan tangan yang ia memukul dengannya dan lidah yang ia berucap dengannya dan hati yang ia berfikir dengannya. Dan apabila ia memohon-Ku niscaya AKU akan memberinya dan apabila dia berdoa kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkannya”
[HR. Ibnus Sunni] [AS132]
[HQ.1.6] Dari Abu Hurayrah r.a., katanya: Bersabda Rasulullah Saw.: “Berfirman Allah Yang Maha Agung:
Aku berada dalam sangkaan hamba-Ku tentang Aku, dan Aku bersama-nya ketika ia menyebut Aku. Bila ia menyebut Aku dalam dirinya, Aku menyebut dia dalam Diri-Ku. Bila ia menyebut Aku dalam khalayak, Aku menyebut dia dalam khalayak yang lebih baik dari itu.
Bila ia mendekat kepada-Ku satu jengkal, Aku mendekat kepadanya satu hasta. Bila ia mendekat kepada-Ku satu hasta, Aku mendekat kepadanya satu depa. Bila ia datang kepada-Ku berjalan kaki, Aku datang kepadanya berlari-lari.”
[HR Al-Bukhari, Muslim, Ibn Majah, At-Tirmidzi, Ibn Hanbal] [IA27]
[HQ.1.7] Dari Mu’adz ibn Jabal r.a., katanya: Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda:”Berfirman Allah Yang Maha Mulia dan Luhur:
Mereka yang berkasih-sayang demi Keluhuran-Ku, bagi mereka mimbar-mimbar cahaya yang menyebabkan para An-Nabi dan para Asy-Syuhada iri kepada mereka.”
[HR At Tirmidzi] [IA33]
[HQ.1.8] Dari Ali ibn Abi Thalib kwh.: Rasulullah Saw. bersabda: “Berfirman Allah Ta’ala:
Barangsiapa berharap (rajaa) kepada selain Aku tidak mengenal-Ku (ya’arifniy). Barangsiapa tidak mengenal-Ku tidak mengabdi-kepada-Ku (ya’abudniy). Barangsiapa tidak mengabdi-kepada-Ku, maka berarti menjadi-wajiblah (i’stawjaba) kemurkaan-Ku. Barangsiapa takut (khauf) kepada selain Aku, halal baginya pembalasan-Ku.”
[IA22]
[HQ.1.9] Aku bersaksi atas Abu Sa’id dan Abu Hurayrah, bahwa mereka bersaksi atas Nabi Saw., bahwa Beliau Saw. bersabda:
“Barangsiapa mengatakan: ‘Laa ilaaha illallah wallahu akbar’, Allah membenarkan dia dan berfirman: ’Tidak ada tuhan kecuali Aku’ dan ‘Aku Maha Besar’. Bila ia berkata: ’laa ilaaha illallahu wahdah’, Allah berfirman: ‘Tidak ada tuhan kecuali Aku sendiri’. Jika ia berkata: ‘laa ilaaha illallahu wahdahu laa syarikallah’ , Allah berfirman: ‘Tidak tuhan kecuali Aku Sendiri dan tidak ada sekutu bagi-Ku’. Bila ia berkata: ‘laa ilaaha illal-Lah, lahu-l-mulku wa lahu-l-hamdu’, Allah berfirman: ‘Tidak ada tuhan kecuali Aku, bagi-Ku kerajaan-Ku dan bagi-Ku segala puji’. Bila ia berkata: ’laa ilaaha illal-Lah, laa hawla walaa quwwata illa billah’, Allah berfirman: ‘Tidak ada tuhan kecuali Aku, tidak ada upaya dan tidak pula kekuatan kecuali dengan izin-Ku’.
Nabi Saw. bersabda: ‘Barangsiapa mengucapkannya di dalam sakitnya, kemudian mati, ia tidak dimakan api neraka.’”
[HR At-Tirmidzi]
[HQ.1.10] Dari Abu Hurayrah r.a., Rasulullah Saw. bersabda: Berfirman Allah Yang Maha Agung dan Luhur:
“Sudah Kupersiapkan untuk hamba-Ku yang Shalih apa yang tidak pernah mata melihatnya, tidak pernah telinga mendengarnya dan tidak bisa dibayangkan manusia.”
[HR Al Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, Ibn Majah, Ad Darimi] [Relung Cahaya, Ibn Arabi, Hadis ke 21] [AS27,31]
[HQ.1.11] Dari Abu Hurayrah r.a., Rasulullah Saw. bersabda: Berfirman Allah Yang Maha Besar dan Agung:
“Dari segala yang dipersekutukan, Akulah yang paling tidak butuh kepada persekutuan. Maka barangsiapa dalam pekerjaannya menyekutukan Aku dengan yang lain, Aku lepas daripadanya, sedang ia milik yang ia persekutukan.”
[HR Ibn Majah] [IA2]
[HQ.1.12] Dari Abu Umamah r.a., Rasulullah Saw. bersabda: Berfirman Allah Yang Maha Besar dan Agung:
“Diantara para wali-Ku di hadirat-Ku, yang paling menerbitkan iri-hati ialah si mu’min yang kurang hartanya, yang menemukan nasib hidupnya dalam sembahyang, yang paling baik ibadat kepada Tuhannya, dan taat kepada-Nya dalam keadaan tersembunyi maupun terang. Ia tak terlihat di antara khalayak, tak tertuding dengan telunjuk. Rezekinya pas-pasan, tetapi iapun sabar dengan hal itu.”
Kemudian Beliau Saw. menjentikkan jarinya, lalu bersabda: ”Kematiannya dipercepat, tangisnya hanya sedikit dan peninggalannya amat kurangnya.”
[HR At Tirmidzi, Ibn Majah, Ibn Hanbal] [IA3]
[HQ.1.13] Dari Abu Umamah Al Bahili r.a., bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda: “Allah telah berfirman:
Sebaik-baik persembahan yang dapat diberikan hamba-Ku kepada-Ku ialah menyampaikan nasehat karena Aku.”
[HR Ahmad, Hakim, Abu Nu’aim] [AS7]
[HQ.1.14] Dari Anas r.a., bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda: “Berfirman Allah Ta’ala:
Ada empat perkara. Satu yang menyangkut hubungan Aku dengan engkau. Satu lagi yang menyangkut hubungan antara engkau dengan hamba-hamba-Ku. Satu yang lan untuk Aku, dan yang satu lagi untuk engkau.
Adapun yang untuk Aku, hendaklah engkau mengabdi Aku tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatupun. Yang menyangkut dirimu, maka apa saja yang engkau kerjakan dari kebajikan, Aku akan memberikan balasannya. Yang menyangkut antara Aku dengan engkau, ialah hendaklah engkau memohon (berdoa kepada) Aku dan Aku mengabulkan engkau. Dan yang menyangkut antara engkau dengan hamba-hamba-Ku, hendaklah engkau merelakan [ridhokan] bagi mereka apa yang engkau merelakan [ridhokan] bagi dirimu.”
[HR Abu Nu’aim] [AS25]
[HQ.1.15] Berkata Umarah bin Daskarah r.a., bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda: “Allah Ta’ala telah berfirman:
Sesungguhnya hamba-Ku itu ialah setiap orang yang mengingati-Ku, di waktu dia sedang menemui lawannya (di medan perang).”
[HR Tirmidzi] [AS40]
[HQ.1.16] Berkata Siti `Aisyah r.a., bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda: “Allah Ta’ala telah berfirman:
Sesungguhnya Aku telah berjanji dengan DzatKu terhadap hamba-Ku, bahwa apabila dia menunaikan shalat tepat pada waktunya, niscaya Aku tidak akan menyiksanya, dan bahwa Aku akan memasukkannya ke dalam surga tanpa hisab lagi.”
[HR Hakim] [AS41]
[HQ.1.17] Dari Uqbah ibn Amir ra. berkata, aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: “Tuhanmu kagum terhadap pengembala kambing di ujung bukit yang di kala didengungkan adzan ia mendirikan Sholat. Lalu Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman:
Lihatlah hamba-Ku ini, didengungkan adzan kemudian ia shalat karena takut (khoofu) terhadap-Ku, Aku telah mengampuni hamba-Ku dan memasukkannya ke sorga.”
[Hadis ini ditakhrijkan oleh An Nasa’i] [MZ12]
[HQ.1.18] Dari Abu Hurairah ra, Nabi Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman:
“Wahai anak Adam, luangkanlah waktu untuk ibadah kepada-Ku maka Aku isi dadamu dengan kekayaan dan Aku tutup kekafiranmu. Jika tidka demikian maka Aku isikan kesibukan di mukamu dan Aku tidak menutup kefakiranmu”.
[Hadis ini di takhrijkan oleh At Tirmidzi] [MZ11]
[HQ.1.19] Dari Abu Hurayrah r.a., bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda: “Berfirman Allah Ta’ala:
Apabila Aku menimpakan bala ke atas hamba-Ku yang mu’min, lalu ia bersabar (atas penderitaan itu), tiada ia mengadu atau mengeluh kepada pengunjung-pengunjungnya, niscaya akan Aku lepaskan dia dari tahanan-Ku (penderitaan itu), kemudian Aku tukarkan dagingnya dengan daging yang lebih baik, dan darahnya dengan darah yang lebih baik, sehingga ia dapat bekerja semula (yakni: setelah semua dosa dan kesalahan yang lalu Allah ampunkan semuanya).”
[HR Al Hakim] [AS9]
[HQ.1.20] Berkata Abu Dardanas r.a., bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda: “Allah Ta’ala telah berfirman:
Jika hamba-Ku mengeluh dan mengadukan penyakitnya sebelum tiga hari, maka ia telah mengadukan Aku.”
[HR Thabarani] [AS24]
[HQ.1.21] Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya ia bersama dengan Rasulullah Saw. menjenguk orang yang sakit karena demam, lalu Rasulullah Saw. bersabda: “Bergembiralah, karena Allah telah berfirman:
Itu adalah api-Ku, yang Aku kuasakan terhadap hamba-Ku yang mu’min di dunia agar menduduki (sebagai pengganti) bagian apinya di akhirat.”
[Hadis ini ditakhrijkan oleh Ibnu Majah.] [MZ207]
[HQ.1.22] Berkata Abu Umamah ra. bahwasanya Nabi Saw bersabda: ”Allah telah berfirman:
Wahai Malaikat-ku. Pergilah kepada hamba-Ku, dan timpakan ke atasnya bala”
Maka para Malaikat pun menimpakan bala ke atasnya dan orang itu memuji Allah. Para Malaikat lalu kembali mengatakan, ”Wahai Tuhan kami ! Kami telah menimpakan atasnya sebagaimana yang Engkau perintahkan.
Berfirman Tuhan: ”Kembali semula kepadanya, Aku ingin mendengar apa katanya.”
[HR Thabarani] [AS76]
[HQ.1.23] Berkata Anas ra. bahwasanya Nabi Saw bersabda: ”Allah telah berfirman:
Jika Aku menimpakan suatu mushibah ke atas salah seorang hamba-Ku pada badannya, atau hartanya, atau anaknya, lalu dia menerima mushibah itu dengan penuh kesabaran, niscaya di hari kiamat Aku malu akan menegakkan baginya neraca timbangan atau membuka buku catatan amalnya.”
[HR Qudha’i] [Dailami, Hakim, Tirmidzi] [AS14]
[HQ.1.24] Berkata Abul Asy’ats Ash-Shan’aani ra. bahwasanya Nabi Saw. bersabda: “Allah telah berfirman:
Sekiranya Aku uji salah seorang hamba-Ku yang mu’min, lalu ia memuji-Ku atas apa yang telah Aku ujikan itu (niscaya Aku akan perintahkan kepada Malaikat-Ku agar) berilah pahala yang bersambungan baginya, sebagaimana pahala yang biasa kalian berikan.”
[HR. Ahmad dan Thabarani] [AS11][PD8] [Mohon periksa terjemahannya]
[HQ.1.25] Berkata Syaddad bin Aus ra. bahwasanya Nabi Saw. bersabda: “Allah telah berfirman:
Sekiranya Aku uji salah seorang hamba-Ku yang mu’min, lalu ia memuji-Ku seraya bersabar atas (penderitaan) apa yang Aku mengujinya. Maka ia akan bangun dari tempat pembaringannya, bagaikan anak yang baru dilahirkan oleh ibunya, bersih dari dosa. Lantas Tuhan akan memerintahkan malaikat Pencatat Amal: Sesungguhnya Aku telah menahan hamba-Ku ini dan Aku telah menguinya, maka kini catatkanlah baginya apa yang kamu selalu catatkan sebelum itu dari pahala-pahala amalannya.”
[HR. Ahmad] [AS13]
[HQ.1.26] Berkata Ibnu Mas’ud ra. bahwasanya Nabi Saw. telah bersabda: ”Allah telah berfirman:
Wahai dunia ! Pahitkanlah kehidupan para kekasih-Ku, janganlah sekali-sekali engkau memaniskannya, kelak engkau akan memfitnahinya.”
[HR. Qudha’i] AS195]
Mobil Sporty Berselimut Debu Penyesalan
Seorang pemuda sebentar lagi akan di-wisuda, sebentar lagi dia akan menjadi seorang sarjana, akhir jerih payah-nya selama beberapa tahun di bangku pendidikan. Beberapa bulan sebelumnya dia melewati sebuah showroom, dan saat itu dia jatuh cinta kepada sebuah mobil sport, keluaran terbaru dari Peugeot.
Selama beberapa bulan dia selalu membayangkan, nanti pada saat wisuda ayahnya pasti akan membelikan mobil itu kepadanya. Ia sangat yakin, karena ia adalah anak satu-satunya dan ayahnya sangat menyayanginya. Iapun berangan-angan mengendarai mobil itu dan bersenang-senang dengan teman-temannya. Bahkan semua angan-angannya itu telah ia ceritakan kepada teman-temannya.
Saatnya pun tiba, siang itu, setelah wisuda, dia melangkah pasti menuju ke ayahnya.
Sang ayah tersenyum dan dengan berlinang air mata karena terharu ia mengungkapkan betapa ia bangga akan anaknya, dan betapa ia mencintai anaknya itu. Lalu ia pun mengeluarkan sebuah bingkisan,… bukan sebuah kunci mobil !
Dengan hati yang hancur sang anak menerima bingkisan itu, dan dengan sangat kecewa dia membukanya. Di dalam bingkisan itu ia menemukan sebuah Kitab Suci yang bersampulkan kulit asli, dan di kulit itu terukir indah namanya dengan tinta emas.
Pemuda itu menjadi marah dan dengan suara yang meninggi dia berteriak, "Aahh… Ayah memang sangat mencintai saya, dengan semua uang yang Ayah miliki Ayah belikan Kitab ini sebagai hadiah untuk kelulusanku ?"
Lalu dia lari meninggalkan ayahnya. Ayahnya tidak bisa berkata apa-apa, hatinya hancur, dia berdiri mematung ditonton puluhan pasang mata yang hadir saat itu.
Tahun demi tahun berlalu, dengan otaknya yang cemerlang sang anak berhasil menjadi seorang yang terpandang. Dia mempunyai rumah yang besar dan mewah, dengan istri yang cantik dan anak-anak yang cerdas.
Sementara itu ayahnya semakin tua dan tinggal sendiri. Sejak hari wisuda itu, anaknya pergi meninggalkannya dan tak pernah menghubunginya. Dia berharap suatu saat dapat bertemu anaknya itu, hanya untuk meyakinkan betapa kasihnya ia pada anak itu. Sang anak pun kadang rindu dan ingin bertemu dengan sang ayah, tapi mengingat apa yang terjadi pada hari wisudanya, dia menjadi sakit hati dan belum bisa memaafkannya.
Sampai suatu hari datang sebuah telegram dari kantor kejaksaan yang memberitakan bahwa ayahnya telah meninggal, dan sebelum ayahnya meninggal, dia mewariskan semua hartanya kepada anak satu-satunya itu.
Sang anak disuruh menghadap Jaksa wilayah, kemudian bersama-sama ke rumah ayahnya untuk mengurus semua harta peninggalannya. Saat melangkah masuk kerumah itu, mendadak hatinya menjadi sangat sedih, mengingat semua kenangan semasa dia tinggal disitu.
Dia merasa sangat menyesal telah bersikap buruk kepada ayahnya. Dengan bayangan-bayangan masa lalu yang menari-nari di matanya, dia menelusuri semua barang di rumah itu….. Dan ketika dia membuka lemari besi ayahnya, dia menemukan Kitab Suci itu,masih terbungkus dengan kertas yang sama, sama seperti bertahun-tahun yang lalu.
Dengan airmata berlinang, dia lalu memungut Kitab Suci itu, dan mulai membuka halamannya.
Di halaman pertama Kitab Suci itu, dia membaca tulisan tangan ayahnya, "Terima kasih Tuhan, Engkau berikan anak yang baik kepada manusia yang hina ini … "
Selesai dia membaca tulisan itu, sesuatu jatuh dari bagian belakang Kitab Suci itu. Dia memungutnya,…. sebuah kunci mobil ! Di gantungan kunci mobil itu tercetak nama toko, sama dengan toko mobil sport yang dulu dia idamkan ! Dia membuka halaman terakhir Kitab Suci itu, dan menemukan di situ STNK dan surat-surat lainnya, namanya tercetak di situ. Dan sebuah kwitansi pembelian mobil dengan tanggal tepat sehari sebelum hari wisudanya.
Dia berlari menuju garasi, dan di sana dia menemukan sebuah mobil yang berlapiskan debu selama bertahun-tahun, meskipun mobil itu sudah sangat kotor karena tidak disentuh bertahun-tahun, dia masih mengenal jelas mobil itu, mobil sport yang dia dambakan bertahun-tahun lalu. Dengan buru-buru dia menghapus debu pada jendela mobil dan melongok kedalam.
Bagian dalam mobil itu masih baru, plastik membungkus joknya, di atas dasbornya ada sebuah foto, foto ayahnya yang tersenyum bangga. Mendadak kakinya lunglai, ia terduduk di samping mobil, air matanya tidak terhentikan, mengalir terus mengiringi rasa sesal yang tak mungkin terobati ……..
(sumber : tidak jelas)
Minggu, 28 Agustus 2011
Air Kehidupan
Segala sesuatu,
terkecuali cinta kepada yang Maha Indah,
walaupun tampak manis bagai gula,
sebenarnya membuat jiwa menderita.
Apakah itu penderitaan jiwa?
Menyongsong kematian seraya tidak menggenggam
Air Kehidupan.
Umumnya manusia, menancapkan pandangan ke dua mata
mereka kepada bumi dan kematian: seraya mereka
menyimpan seratus keraguan tentang Air Kehidupan.
Berjuanglah sehingga seratus keraguanmu berkurang
jadi sembilan puluh: bergeraklah maju kepada Allah
pada malam harinya alam ini; karena jika engkau tertidur,
sang malam lah yang akan meninggalkanmu.
Di tengah gelapnya malam, carilah Siang yang terang:
ikutilah Akal Sejati yang menelan kegelapan.
Di balik hitamnya jubah malam, yang sewarna kejahatan, terdapat
banyak kebaikan: Air Kehidupan itu pasangan kegelapan.
Tapi bagaimana mungkin mengangkat kepalamu dari beratnya
kantuk, ketika engkau tebarkan seratus benih kemalasan.
Jika mendengkur bagaikan mati,
dan matinya makanan yang haram dijadikan sahabat,
maka engkau bagaikan pedagang yang tertidur,
sementara sang malam menjadi pencuri
yang membuatmu bangkrut.
(Rumi)
Cahaya dan Kegelqapan
Cahaya menjadikan warna-warna nyata:
malam membuat merah, hijau dan kecoklatan sirna dari mata.
Cahaya, oleh kegelapan, diperkenalkan padamu.
Segala yang tak terlihat, oleh lawannya, ditampakkan untukmu.
Allah, ahad tanpa lawan, maka
Bagi-Nya segala sesuatu terlihat,
namun Dia tak akan pernah dilihat.
Dari gelapnya belantara(Rumi)
tempat singa terlihat mata
jadilah jiwa tak terlihat
yang melompat ke dalam cahaya.
IBUMU MALAIKATMU
Sesaat sebelum bayi dilhirkan, Sang Bayi bertanya pada Allah SWT.
Bayi:"Para malaikat di sini mengatakan
bahwa besok Engkau akan mengirimku ke dunia, tetapi bagaimana cara saya hidup di
sana, saya begitu kecil dan lemah?, kata si bayi.
Tuhan menjawab, "Aku telah memilih satu malaikat untukmu, ia akan menjaga dan
mengasihimu."
Bayi:"Tapi di surga, apa yang saya lakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa,
ini cukup bagi saya untuk bahagia." Demikian kata si bayi.
Tuhanpun menjawab, "Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari,
dan kamu akan merasakan kehangatan cintanya dan jadi lebih berbahagia."
Bayi:"Dan bagaimana saya bisa mengerti saat orang-orang
berbicara jika saya tidak mengerti bahasa mereka?".
Tuhan menjawab, "Malaikatmu akan berbicara kepadamu dengan bahasa
yang paling indah yang pernah kamu dengar, dan dengan penuh kesabaran dan
perhatian dia akan mengajarkan bagaimana cara kamu berbicara."
Bayi:"Dan apa yang dapat saya lakukan saat saya
ingin berbicara kepada-Mu?"
Tuhan menjawab:"Malaikatmu akan mengajarkan bagaimana cara kamu berdoa."
Bayi:"Saya mendengar bahwa di bumi banyak orang jahat, siapa yang akan melindungi saya?
Tuhanpun menjawab, "Malaikatmu akan melindungimu, dengan taruhan jiwanya sekalipun."
Bayi:"TAPI SAYA AKAN BERSEDIH KERNA TIDAK MELIHAT ENGKAU LAG."
Dan Tuhanpun menjawab, "Malaikatmu akan menceritakan kepadamu tentang Aku,
dan akan mengajarkan bagaimana agar kamu bisa kembali kpada-Ku, walaupun
sesungguhnya Aku selalu berada di sisimu."
Saat itu surga begitu tenangnya, sehingga suara dari bumi dapat terdengar dan
sang anak dengan suara lirih bertanya, "Tuhan, jika saya harus pergi sekarang,
bisakah Engkau memberitahu siapa nama malaikat di rumahku nanti?"
Tuhanpun menjawab, "Kamu dapat memanggil malaikatmu... IBU ..."
sumber : unidentified
Bayi:"Para malaikat di sini mengatakan
bahwa besok Engkau akan mengirimku ke dunia, tetapi bagaimana cara saya hidup di
sana, saya begitu kecil dan lemah?, kata si bayi.
Tuhan menjawab, "Aku telah memilih satu malaikat untukmu, ia akan menjaga dan
mengasihimu."
Bayi:"Tapi di surga, apa yang saya lakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa,
ini cukup bagi saya untuk bahagia." Demikian kata si bayi.
Tuhanpun menjawab, "Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari,
dan kamu akan merasakan kehangatan cintanya dan jadi lebih berbahagia."
Bayi:"Dan bagaimana saya bisa mengerti saat orang-orang
berbicara jika saya tidak mengerti bahasa mereka?".
Tuhan menjawab, "Malaikatmu akan berbicara kepadamu dengan bahasa
yang paling indah yang pernah kamu dengar, dan dengan penuh kesabaran dan
perhatian dia akan mengajarkan bagaimana cara kamu berbicara."
Bayi:"Dan apa yang dapat saya lakukan saat saya
ingin berbicara kepada-Mu?"
Tuhan menjawab:"Malaikatmu akan mengajarkan bagaimana cara kamu berdoa."
Bayi:"Saya mendengar bahwa di bumi banyak orang jahat, siapa yang akan melindungi saya?
Tuhanpun menjawab, "Malaikatmu akan melindungimu, dengan taruhan jiwanya sekalipun."
Bayi:"TAPI SAYA AKAN BERSEDIH KERNA TIDAK MELIHAT ENGKAU LAG."
Dan Tuhanpun menjawab, "Malaikatmu akan menceritakan kepadamu tentang Aku,
dan akan mengajarkan bagaimana agar kamu bisa kembali kpada-Ku, walaupun
sesungguhnya Aku selalu berada di sisimu."
Saat itu surga begitu tenangnya, sehingga suara dari bumi dapat terdengar dan
sang anak dengan suara lirih bertanya, "Tuhan, jika saya harus pergi sekarang,
bisakah Engkau memberitahu siapa nama malaikat di rumahku nanti?"
Tuhanpun menjawab, "Kamu dapat memanggil malaikatmu... IBU ..."
sumber : unidentified
MAWAR UNTUK IBU
Seorang pria berhenti di toko bunga untuk memesan seikat karangan bunga yang akan dipaketkan pada sang ibu yang tinggal jauh 250 km darinya. Begitu keluar dari mobilnya, ia melihat seorang gadis kecil berdiri trotoar jalan sambil menangis tersedu-sedu.
Pria itu menanyainya kenapa dan dijawab oleh gadis kecil,
"Saya ingin membeli setangkai bunga mawar merah untuk ibu saya. Tapi saya cuma punya uang lima ratus saja, sedangkan harga mawar itu seribu."
Pria itu tersenyum dan berkata, "Ayo ikut, aku akan membelikanmu bunga yang kau mau."
Kemudian ia membelikan gadis kecil itu setangkai mawar merah, sekaligus memesankan karangan bunga untuk dikirimkan ke ibunya.
Ketika selesai dan hendak pulang, ia menawarkan diri untuk mengantar gadis kecil itu pulang ke rumah. Gadis kecil itu melonjak gembira, katanya, "Ya tentu saja. Maukah anda mengantarkan ke tempat ibu saya?"
Kemudian mereka berdua menuju ke tempat yang ditunjukkan gadis kecil itu, yaitu pemakaman umum, dimana lalu gadis kecil itu meletakkan bunganya pada sebuah kuburan yang masih basah.
Melihat hal ini, hati pria itu menjadi trenyuh dan teringat sesuatu. Bergegas, ia kembali menuju ke toko bunga tadi dan membatalkan kirimannya.
Ia mengambil karangan bunga yang dipesannya dan mengendarai sendiri kendaraannya sejauh 250 km menuju rumah ibunya.
(diadaptasi dari: Rose for Mama, C.W. McCall)
Pria itu menanyainya kenapa dan dijawab oleh gadis kecil,
"Saya ingin membeli setangkai bunga mawar merah untuk ibu saya. Tapi saya cuma punya uang lima ratus saja, sedangkan harga mawar itu seribu."
Pria itu tersenyum dan berkata, "Ayo ikut, aku akan membelikanmu bunga yang kau mau."
Kemudian ia membelikan gadis kecil itu setangkai mawar merah, sekaligus memesankan karangan bunga untuk dikirimkan ke ibunya.
Ketika selesai dan hendak pulang, ia menawarkan diri untuk mengantar gadis kecil itu pulang ke rumah. Gadis kecil itu melonjak gembira, katanya, "Ya tentu saja. Maukah anda mengantarkan ke tempat ibu saya?"
Kemudian mereka berdua menuju ke tempat yang ditunjukkan gadis kecil itu, yaitu pemakaman umum, dimana lalu gadis kecil itu meletakkan bunganya pada sebuah kuburan yang masih basah.
Melihat hal ini, hati pria itu menjadi trenyuh dan teringat sesuatu. Bergegas, ia kembali menuju ke toko bunga tadi dan membatalkan kirimannya.
Ia mengambil karangan bunga yang dipesannya dan mengendarai sendiri kendaraannya sejauh 250 km menuju rumah ibunya.
(diadaptasi dari: Rose for Mama, C.W. McCall)
Sabtu, 27 Agustus 2011
Kegelisahan Batin
[002] Al Baqarah - Murottal Dan Terjemahan Al Quran.mp3
Seringkah anda dihampiri pertanyaan-pertanyaan seperti ‘untuk apa semua ini? Apakah makna hidup saya? Kenapa hidup saya terasa datar saja, berputar-putar dari hari ke hari? Hanya pergantian episode senang dan sedih? Mengapa saya seperti dikuasai oleh kehidupan saya?’ pun mulai muncul di hati anda. Sebenarnya, Allah setiap saat ‘memanggil-manggil’ kita untuk kembali kepada-Nya. Dengan cara apa saja. Dia, dengan kasih sayang-Nya, terkadang membuat suasana kehidupan seorang anak manusia sedemikian rupa sehingga kalbunya dibuat-Nya ‘menoleh’ kepada Allah. Hanya saja, teramat sedikit orang yang mendengarkan, atau berusaha mendengarkan, panggilan-Nya ini.
Allah terkadang membuat kita terus menerus gelisah, atau terus menerus mempertanyakan ‘Siapa diri saya ini sebenarnya? Apa tujuan saya? Apa makna kehidupan saya?,’ dan sebagainya. Bukankah kegalauan semacam ini adalah sebuah seruan, panggilan supaya kita mencari kesejatian? Mencari kebenaran? Mencari ‘Al-Haqq’? Allah, percayalah, akan selalu menurunkan pancingan-pancingan pada manusia untuk mencari-Nya.
Dalam hal ini, Allah amatlah pengasih. Apakah seseorang percaya kepada-Nya atau tidak, beragama atau tidak, Dia tidak pandang bulu. Apakah seseorang membaca kitab-Nya atau tidak, percaya pada para utusan-Nya ataupun tidak, semua orang pernah dipanggil-Nya dengan cara seperti ini. Setiap orang pasti dipanggil-Nya seperti ini untuk mencari kesejatian, untuk mencari hakikat kehidupan.
Bentuk ‘pancingan’ semacam ini pula yang dialami oleh para pencari, maupun para Nabi. Nabi Ibrahim yang gelisah dan mencari tempat mengabdi (ilah), yang diabadikan dalam QS 6:74-79. Juga kita lihat Nabi Musa, misalnya. Setelah hanyut di sungai nil, dia dibesarkan oleh salah seorang maha raja yang terbesar sepanjang sejarah,. Hidup dalam kemewahan, kecukupan, hanya bersenang-senang. Tapi dia selalu ‘galau’ ketika melihat di sekelilingnya, bangsa Bani Israil, yang ketika itu menjadi warga mesir kelas rendahan, sebagai budak. Dia yang hidup dengan ayah tirinya, tentunya setiap hari melihat sisi kemanusiaan ayahnya, normal saja. Dia mungkin hanya sedikit heran mengapa masyarakat mesir mau menyembah ayah tirinya itu.
Hanya saja, kadang kemewahan, kenyamanan, mengubur harta kita yang sangat berharga itu: potensi kita untuk mencari siapakah diri kita sebenarnya. Kita disibukkan oleh pekerjaan, dibuai oleh kesibukan, mengejar kesuksesan kerja, atau ditipu oleh dalih mengejar karir atau sekolah, atau nyaman bersama keluarga. Sangat sering, ketika hal ini terjadi, pertanyaan-pertanyaan esensial seperti itu, yaitu potensi pencarian kebenaran yang kita bawa sejak lahir, yang ketika kanak-kanak sangat nyata, terkubur dan terlupakan begitu saja seiring waktu kita menjadi semakin dewasa. Padahal, itu adalah ‘potensi mencari Allah’ yang Dia bekali untuk kita ketika lahir. Bukan berarti kita harus meninggalkan semua itu, bukan sama sekali. Tapi, jangan biarkan semua itu menenggelamkan potensi pencarian kebenaran yang telah Allah turunkan pada kita semenjak lahir.
Ketika kita tenggelam dalam dunia seperti itu, kita bahkan tidak menyadari bahwa kehidupan kita berputar-putar saja dari hari ke hari. Sekolah, mengejar karir, pergi pagi pulang sore, terima gaji, menikah, membesarkan anak, menyekolahkan anak, pensiun, dan seterusnya setiap hari, selama bertahun-tahun. Apakah hanya itu? Bukankah kita tanpa sadar telah terjebak kepada pusaran kehidupan yang terus berputar-putar saja, tanpa makna? Celakanya, kita mencetak anak-anak kita untuk mengikuti pola yang sama dengan kita. Pada saatnya nanti, mungkin hidup mereka pun akan mengulangi putaran-putaran tanpa makna yang pernah kita tempuh.
Sangat jarang orang yang potensi pencariannya akan Allah belum terkubur. Dalam hal ini, jika kita masih saja gelisah mencari makna kehidupan, maka kegelisahan kita merupakan hal yang perlu disyukuri.
Berapa orang, sahabat, yang masih mau mendengarkan kegelisahannya sendiri? Padahal kegelisahannya itu merupakan rembesan dari jiwa yang menjerit tidak ingin terkubur dalam kehidupan dunia. Dia ‘menjerit’ ingin mencari Al-Haqq, dan ‘rembesannya’ kadang naik ke permukaan dalam bentuk kegelisahan.
Sayang, sebagian orang segera membantai kegelisahannya, potensi pencarian kebenarannya ini, justru pada saat ketika ia timbul; karena secara psikologis hal ini memang terasa tidak nyaman. Maka untuk melupakannya, ia semakin menenggelamkan diri lebih dalam lagi dalam pekerjaannya, kesibukannya, bersenang-senang, atau berdalih menutupi kegelisahannya dengan berusaha lebih lagi mencintai istri dan anak, atau keluarga, menenggelamkan diri dalam keasyikan hobi… dan sebagainya.
Atau, membantainya dengan kesenangan spiritual sesaat, seperti datang ke pengajian bukan dengan niat mencari-Nya tapi hanya untuk melenyapkan kegelisahannya, seperti obat sakit kepala saja: ketika sakit kepala, cari obat. Kegelisahan hilang, dia pun pergi lagi..
Atau juga dengan mengindoktrinasi dirinya: “Manusia diciptakan untuk beribadah!! Segala jawaban telah ada di Qur’an!!” Oke, tapi ibadah yang seperti apa? Bisakah kita benar-benar beribadah, tanpa mengetahui maknanya? Atau lebih jauh lagi, mampukah ia menjangkau makna Qur’an?
Beranikah kita jujur pada diri kita sendiri: Jika qur’an benar, mengapa kegelisahannya tidak hilang? Mengapa qur’an seperti kitab suci yang tidak teratur susunannya? Mengapa ayatnya kadang melompat-lompat, dari satu topik ke yang lainnya secara mendadak? Jika kita beriman, apakah iman itu? Apakah takwa itu? Apakah Lauhul Mahfudz? Apakah Ad-diin? Apakah Shiratal Mustaqim? Jalan yang lurus yang bagaimana? Mengapa qur’an terasa abstrak dan tak terjangkau makna sebenarnya? Ini sebenarnya pertanyaan-pertanyaan jujur, dan sama sekali bukan menghakimi qur’an.
Kadang orang terus saja mengindoktrinasi dirinya sendiri, padahal qur’an sendiri menyatakan bahwa tidak ada yang mampu menjangkaunya selain orang-orang yang disucikan/ Al-mutahharuun, (QS 56:77-79).
Jeritan jiwanya tersebut ia timbun dengan segala cara. Ia tidak ingin mendengarkannya. Hal ini, sudah barang tentu akan membuat seseorang semakin terperangkap saja dalam rutinitasnya, dan semakin terkuburlah potensi pencariannya akan kebenaran. Padahal seharusnya ‘jeritan jiwa’ tersebut didengarkan. Jika anak kita menangis karena lapar, apakah kita akan pergi bersenang-senang untuk melupakannya, dan berharap anak kita akan berhenti menangis dengan sendirinya? Bukankah seharusnya kita mencari tahu, kenapa anak kita menangis?
Kembali kepada kisah Musa as. Demikian pula Musa, ia pun, sebagaimana kita semua, sejak kecil dibekali pertanyaan-pertanyaan dari dalam dirinya. Dibekali kegelisahan pencarian kebenaran. Bibit-bibitnya ada. Allah, untuk menumbuhkan bibit-bibit pencariannya itu supaya tidak terkubur dalam kemewahan kehidupan istana, menyiramnya dengan kebingungan yang lebih besar lagi.
Ia dipaksaNya menelan kenyataan bahwa ayahnya pernah membantai jutaan bayi lelaki Bani Israil. Ia dipaksaNya menelan kenyataan bahwa ayahnya menganggap Bani Israil adalah warga kelas dua yang rendah, bodoh, dan memang patut diperbudak. Puncaknya, ia dipaksaNya menelan kenyataan bahwa dirinya sendiri ternyata merupakan seorang anak Bani Israil, keturunan warga budak kelas dua, yang dipungut dari sungai Nil. Pada saat ini, pada diri seorang Pangeran Musa lenyaplah sudah harga dirinya. Hancur semua masa lalunya. Dia seorang tanpa sejarah diri sekarang. Ditambah lagi ia telah membunuh seorang lelaki, maka larilah ia terlunta-lunta, menggelandang di padang pasir, mempertanyakan siapa dirinya sebenarnya.
Justru, pada saat inilah ia berangkat dengan pertanyaan terpenting bagi seorang pejalan suluk, yang telah tumbuh disiram subur oleh Allah dengan air kegalauan: “Siapa diriku sebenarnya?”.
Pertanyaan ini telah tumbuh kokoh dalam diri Musa as., dan sebagaimana kita semua mengetahui kisah lanjutannya, di ujung padang pasir Madyan ada seorang pembimbing untuk menempuh jalan menuju Allah ta’ala, yaitu Nabi Syu’aib as, yang lalu menyuruh anaknya untuk menjemput Musa dan membawa Musa kepadanya.
Di bawah bimbingannya, Musa dididik menempuh jalan taubat, supaya “arafa nafsahu”, untuk “arif akan nafs (jiwa)-nya sendiri”. Dan dengan bimbingan Syu’aib akhirnya ia mengerti dengan sebenar-benarnya (ia telah ‘arif), bahwa dirinya diciptakan Allah sebagai seorang Rasul bagi bangsa Bani Israil, bukan sebagai seorang pangeran Mesir. Ia menemukan kembali misi hidupnya, tugas kelahirannya yang untuk apa Allah telah menciptakannya. Ia telah menemukan untuk apa dia diciptakan, yang disabdakan oleh Rasulullah SAW:
“Man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa rabbahu”, bukan semata-mata artinya “siapa yang mengenal dirinya, maka mengenal Tuhannya.” Kata ” ‘Arafa”, juga “Ma’rifat,” berasal dari kata ‘arif, yang bermakna ’sepenuhnya memahami’, ‘mengetahui kebenarannya dengan sebenar-benarnya’; dan bukan sekedar mengetahui. dan nafsahu berasal dari kata ‘nafs’, salah satu dari tiga unsur yang membentuk manusia (Jasad, nafs, dan ruh).
Jadi, kurang lebih maknanya adalah “barangsiapa yang ‘arif (sebenar-benarnya telah mengetahui) akan nafs-nya, maka akan ‘arif pula akan Rabbnya”. Jalan untuk mengenal kebenaran hakiki, mengenal Allah, hanyalah dengan mengenal nafs terlebih dahulu.
Setelah arif akan nafs kita sendiri, lalu ‘arif akan Rabb kita, maka setelah itu kita baru bisa memulai melangkah di atas ‘Ad-diin’.
‘Arif akan Rabb, atau dalam bahasa Arab disebut ‘Ma’rifatullah’ (meng- ‘arifi Allah dengan sebenar-benarnya), sebenarnya barulah –awal– perjalanan, bukan tujuan akhir perjalanan sebagaimana dipahami kebanyakan orang. Salah seorang sahabat Rasul selalu mengatakan kalimatnya yang terkenal: “Awaluddiina ma’rifatullah”, Awalnya diin adalah ma’rifat (meng-’arif-i) Allah....
Allah terkadang membuat kita terus menerus gelisah, atau terus menerus mempertanyakan ‘Siapa diri saya ini sebenarnya? Apa tujuan saya? Apa makna kehidupan saya?,’ dan sebagainya. Bukankah kegalauan semacam ini adalah sebuah seruan, panggilan supaya kita mencari kesejatian? Mencari kebenaran? Mencari ‘Al-Haqq’? Allah, percayalah, akan selalu menurunkan pancingan-pancingan pada manusia untuk mencari-Nya.
Dalam hal ini, Allah amatlah pengasih. Apakah seseorang percaya kepada-Nya atau tidak, beragama atau tidak, Dia tidak pandang bulu. Apakah seseorang membaca kitab-Nya atau tidak, percaya pada para utusan-Nya ataupun tidak, semua orang pernah dipanggil-Nya dengan cara seperti ini. Setiap orang pasti dipanggil-Nya seperti ini untuk mencari kesejatian, untuk mencari hakikat kehidupan.
Bentuk ‘pancingan’ semacam ini pula yang dialami oleh para pencari, maupun para Nabi. Nabi Ibrahim yang gelisah dan mencari tempat mengabdi (ilah), yang diabadikan dalam QS 6:74-79. Juga kita lihat Nabi Musa, misalnya. Setelah hanyut di sungai nil, dia dibesarkan oleh salah seorang maha raja yang terbesar sepanjang sejarah,. Hidup dalam kemewahan, kecukupan, hanya bersenang-senang. Tapi dia selalu ‘galau’ ketika melihat di sekelilingnya, bangsa Bani Israil, yang ketika itu menjadi warga mesir kelas rendahan, sebagai budak. Dia yang hidup dengan ayah tirinya, tentunya setiap hari melihat sisi kemanusiaan ayahnya, normal saja. Dia mungkin hanya sedikit heran mengapa masyarakat mesir mau menyembah ayah tirinya itu.
Hanya saja, kadang kemewahan, kenyamanan, mengubur harta kita yang sangat berharga itu: potensi kita untuk mencari siapakah diri kita sebenarnya. Kita disibukkan oleh pekerjaan, dibuai oleh kesibukan, mengejar kesuksesan kerja, atau ditipu oleh dalih mengejar karir atau sekolah, atau nyaman bersama keluarga. Sangat sering, ketika hal ini terjadi, pertanyaan-pertanyaan esensial seperti itu, yaitu potensi pencarian kebenaran yang kita bawa sejak lahir, yang ketika kanak-kanak sangat nyata, terkubur dan terlupakan begitu saja seiring waktu kita menjadi semakin dewasa. Padahal, itu adalah ‘potensi mencari Allah’ yang Dia bekali untuk kita ketika lahir. Bukan berarti kita harus meninggalkan semua itu, bukan sama sekali. Tapi, jangan biarkan semua itu menenggelamkan potensi pencarian kebenaran yang telah Allah turunkan pada kita semenjak lahir.
Ketika kita tenggelam dalam dunia seperti itu, kita bahkan tidak menyadari bahwa kehidupan kita berputar-putar saja dari hari ke hari. Sekolah, mengejar karir, pergi pagi pulang sore, terima gaji, menikah, membesarkan anak, menyekolahkan anak, pensiun, dan seterusnya setiap hari, selama bertahun-tahun. Apakah hanya itu? Bukankah kita tanpa sadar telah terjebak kepada pusaran kehidupan yang terus berputar-putar saja, tanpa makna? Celakanya, kita mencetak anak-anak kita untuk mengikuti pola yang sama dengan kita. Pada saatnya nanti, mungkin hidup mereka pun akan mengulangi putaran-putaran tanpa makna yang pernah kita tempuh.
Sangat jarang orang yang potensi pencariannya akan Allah belum terkubur. Dalam hal ini, jika kita masih saja gelisah mencari makna kehidupan, maka kegelisahan kita merupakan hal yang perlu disyukuri.
Berapa orang, sahabat, yang masih mau mendengarkan kegelisahannya sendiri? Padahal kegelisahannya itu merupakan rembesan dari jiwa yang menjerit tidak ingin terkubur dalam kehidupan dunia. Dia ‘menjerit’ ingin mencari Al-Haqq, dan ‘rembesannya’ kadang naik ke permukaan dalam bentuk kegelisahan.
Sayang, sebagian orang segera membantai kegelisahannya, potensi pencarian kebenarannya ini, justru pada saat ketika ia timbul; karena secara psikologis hal ini memang terasa tidak nyaman. Maka untuk melupakannya, ia semakin menenggelamkan diri lebih dalam lagi dalam pekerjaannya, kesibukannya, bersenang-senang, atau berdalih menutupi kegelisahannya dengan berusaha lebih lagi mencintai istri dan anak, atau keluarga, menenggelamkan diri dalam keasyikan hobi… dan sebagainya.
Atau, membantainya dengan kesenangan spiritual sesaat, seperti datang ke pengajian bukan dengan niat mencari-Nya tapi hanya untuk melenyapkan kegelisahannya, seperti obat sakit kepala saja: ketika sakit kepala, cari obat. Kegelisahan hilang, dia pun pergi lagi..
Atau juga dengan mengindoktrinasi dirinya: “Manusia diciptakan untuk beribadah!! Segala jawaban telah ada di Qur’an!!” Oke, tapi ibadah yang seperti apa? Bisakah kita benar-benar beribadah, tanpa mengetahui maknanya? Atau lebih jauh lagi, mampukah ia menjangkau makna Qur’an?
Beranikah kita jujur pada diri kita sendiri: Jika qur’an benar, mengapa kegelisahannya tidak hilang? Mengapa qur’an seperti kitab suci yang tidak teratur susunannya? Mengapa ayatnya kadang melompat-lompat, dari satu topik ke yang lainnya secara mendadak? Jika kita beriman, apakah iman itu? Apakah takwa itu? Apakah Lauhul Mahfudz? Apakah Ad-diin? Apakah Shiratal Mustaqim? Jalan yang lurus yang bagaimana? Mengapa qur’an terasa abstrak dan tak terjangkau makna sebenarnya? Ini sebenarnya pertanyaan-pertanyaan jujur, dan sama sekali bukan menghakimi qur’an.
Kadang orang terus saja mengindoktrinasi dirinya sendiri, padahal qur’an sendiri menyatakan bahwa tidak ada yang mampu menjangkaunya selain orang-orang yang disucikan/ Al-mutahharuun, (QS 56:77-79).
[Q.S. 56] “Sesungguhnya Al Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia (77). Pada kitab yang terpelihara (78). Dan tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan/ Al-muthahharuun (79).”Apakah dia berani yakin bahwa dia adalah seorang yang telah disucikan, sehingga makna qur’an telah terbentang begitu jelas dihadapannya? Jika demikian, apa implikasi pernyataan : “Semua jawaban telah ada di Qur’an” baginya? Apakah ia akan terus saja membohongi diri dengan membaca terjemahan qur’an dan memaksakan diri meyakini bahwa ia telah mendapatkan maknanya?
Jeritan jiwanya tersebut ia timbun dengan segala cara. Ia tidak ingin mendengarkannya. Hal ini, sudah barang tentu akan membuat seseorang semakin terperangkap saja dalam rutinitasnya, dan semakin terkuburlah potensi pencariannya akan kebenaran. Padahal seharusnya ‘jeritan jiwa’ tersebut didengarkan. Jika anak kita menangis karena lapar, apakah kita akan pergi bersenang-senang untuk melupakannya, dan berharap anak kita akan berhenti menangis dengan sendirinya? Bukankah seharusnya kita mencari tahu, kenapa anak kita menangis?
Kembali kepada kisah Musa as. Demikian pula Musa, ia pun, sebagaimana kita semua, sejak kecil dibekali pertanyaan-pertanyaan dari dalam dirinya. Dibekali kegelisahan pencarian kebenaran. Bibit-bibitnya ada. Allah, untuk menumbuhkan bibit-bibit pencariannya itu supaya tidak terkubur dalam kemewahan kehidupan istana, menyiramnya dengan kebingungan yang lebih besar lagi.
Ia dipaksaNya menelan kenyataan bahwa ayahnya pernah membantai jutaan bayi lelaki Bani Israil. Ia dipaksaNya menelan kenyataan bahwa ayahnya menganggap Bani Israil adalah warga kelas dua yang rendah, bodoh, dan memang patut diperbudak. Puncaknya, ia dipaksaNya menelan kenyataan bahwa dirinya sendiri ternyata merupakan seorang anak Bani Israil, keturunan warga budak kelas dua, yang dipungut dari sungai Nil. Pada saat ini, pada diri seorang Pangeran Musa lenyaplah sudah harga dirinya. Hancur semua masa lalunya. Dia seorang tanpa sejarah diri sekarang. Ditambah lagi ia telah membunuh seorang lelaki, maka larilah ia terlunta-lunta, menggelandang di padang pasir, mempertanyakan siapa dirinya sebenarnya.
Justru, pada saat inilah ia berangkat dengan pertanyaan terpenting bagi seorang pejalan suluk, yang telah tumbuh disiram subur oleh Allah dengan air kegalauan: “Siapa diriku sebenarnya?”.
Pertanyaan ini telah tumbuh kokoh dalam diri Musa as., dan sebagaimana kita semua mengetahui kisah lanjutannya, di ujung padang pasir Madyan ada seorang pembimbing untuk menempuh jalan menuju Allah ta’ala, yaitu Nabi Syu’aib as, yang lalu menyuruh anaknya untuk menjemput Musa dan membawa Musa kepadanya.
Di bawah bimbingannya, Musa dididik menempuh jalan taubat, supaya “arafa nafsahu”, untuk “arif akan nafs (jiwa)-nya sendiri”. Dan dengan bimbingan Syu’aib akhirnya ia mengerti dengan sebenar-benarnya (ia telah ‘arif), bahwa dirinya diciptakan Allah sebagai seorang Rasul bagi bangsa Bani Israil, bukan sebagai seorang pangeran Mesir. Ia menemukan kembali misi hidupnya, tugas kelahirannya yang untuk apa Allah telah menciptakannya. Ia telah menemukan untuk apa dia diciptakan, yang disabdakan oleh Rasulullah SAW:
“Setiap orang dimudahkan untuk mengerjakan apa yang telah Dia ciptakan untuk itu.” (Shahih Bukhari no. 2026)Maka dari itu, sahabat-sahabat, jika ada diantara anda yang mungkin ingin sekali bertemu seorang guru sejati, atau seorang mursyid yang Haqq untuk minta bimbingannya, maka terlebih dahulu anda harus benar-benar mencari Allah, mencari kebenaran, mencari Al-Haqq. Pertanyaan “Siapakan aku? Untuk apa aku diciptakan?” harus benar-benar telah tumbuh dalam diri kita (dan itu pun bukan menjadi jaminan bahwa perjalanannya akan berhasil). Anda memang telah benar-benar butuh jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu. Jika tidak demikian, atau jika belum merasa benar-benar membutuhkan, percayalah, tidak akan ada seorang mursyid sejati yang akan mengutus anak-anaknya untuk menjemput anda.
“Man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa rabbahu”, bukan semata-mata artinya “siapa yang mengenal dirinya, maka mengenal Tuhannya.” Kata ” ‘Arafa”, juga “Ma’rifat,” berasal dari kata ‘arif, yang bermakna ’sepenuhnya memahami’, ‘mengetahui kebenarannya dengan sebenar-benarnya’; dan bukan sekedar mengetahui. dan nafsahu berasal dari kata ‘nafs’, salah satu dari tiga unsur yang membentuk manusia (Jasad, nafs, dan ruh).
Jadi, kurang lebih maknanya adalah “barangsiapa yang ‘arif (sebenar-benarnya telah mengetahui) akan nafs-nya, maka akan ‘arif pula akan Rabbnya”. Jalan untuk mengenal kebenaran hakiki, mengenal Allah, hanyalah dengan mengenal nafs terlebih dahulu.
Setelah arif akan nafs kita sendiri, lalu ‘arif akan Rabb kita, maka setelah itu kita baru bisa memulai melangkah di atas ‘Ad-diin’.
‘Arif akan Rabb, atau dalam bahasa Arab disebut ‘Ma’rifatullah’ (meng- ‘arifi Allah dengan sebenar-benarnya), sebenarnya barulah –awal– perjalanan, bukan tujuan akhir perjalanan sebagaimana dipahami kebanyakan orang. Salah seorang sahabat Rasul selalu mengatakan kalimatnya yang terkenal: “Awaluddiina ma’rifatullah”, Awalnya diin adalah ma’rifat (meng-’arif-i) Allah....
Mutiara Hadist
Kebahagiaan orang yang beriman adalah dengan mencintai Allah SWT. Dan mencintai Allah SWT merupakan puncak dari segala kebahagiaan dan hanya dinikmati oleh mereka yang sungguh-sungguh beriman dan tidak mau menerima kebahagiaan selainnya."
( DR. Aidh al-Qarni)
Hati yang lurus Seseorang tidak bisa dipegang amanahnya sehingga lurus lisannya, dan dia tidak lurus lisannya sehingga lurus hatinya. (al Hasan al Bashri/Al Adab asy Syar'iyyah, Ibnu Muflih)
Orang alim itu bukanlah yang mengetahui kebaikan dari yang buruk, tetapi orang alim adalah yang mengetahui kebaikan lalu mengikutinya dan mengetahui keburukan lalu menjauhinya. (Sufyan bin Uyainah/ Az Zuhd, Imam Ahmad)
Tiga Perkara
"Ada tiga perkara pada diriku, aku tidak menyebutkannya kecuali supaya dapat diambil pelajaran, Pertama "Aku tidak mendatangi penguasa (sulthan) kecuali jika di undang, kedua, Aku tidak masuk pada dua orang kecuali setelah keduanya mempersilahkanku masuk diantara mereka, ketiga, tidaklah aku menyebutkan seseorang setelah dia pergi dari sisiku kecuali kebaikan-kebaikan." (Al Ahnaf bin Qais)
Imam Malik:
"Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa: aku terkadang berbuat salah dan terkadang aku benar. Oleh sebab itu, perhatikanlah pendapat-pendapatku: semua yang sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah, terimalah; dan semua yang tidak sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah, abaikanlah." - Ibn 'Abdul Barr in Jaami' Bayaan al-'Ilm (2/32)
********
Ibnu Umar r.a. pernah ditanya : "Apakah pakaian yang baik untuk dipakai?"
Yaitu : "Pakaian yang kiranya tidak dicemoohkan oleh orang yang budi pekertinya rendah dan tidak pula kiranya dicela oleh orang-orang yang bijaksana."
Orang itu bertanya lagi : "Jadi yang bagaimana?"
Jawabnya : "Yang sedang saja, terlalu murahpun tidak dan terlalu mahal pun tidak."
Akan datang kepada manusia suatu masa ketika kemanisan hati berubah menjadi masin. Sehingga pada hari itu, orang yang berilmu dan orang yang memepelajari ilmu tak dapat mengambil manfaat dari ilmunya. Maka hati orang-orang berilmu seumpama tanah kosong yang bergaram yang turun atasnya hujan dari langit maka tidak juga menjadi tawar. Iaitu, apabila condong hati orang berilmu kepada cinta dunia dan melebihkannya atas cinta akhirat, maka pada saat itu dicabutlah oleh Allah sumber-sumber hikmah dan dipadamkanlah lampu petunjuk dari hati mereka. Maka akan berceritalah kepadamu orang yang berilmu di antara mereka itu, ketika engkau menjumpainya bahawa ia takut kepada Allah dengan lisannya, sementara kezaliman jelas kelihatan pada amal perbuatannya. Alangkah suburnya lidah mereka dan tanduslah hati mereka ketika itu! Tidaklah terjadi yang demikian itu selain kerana para guru mengajar bukan kerana Allah dan para pelajar belajar bukan kerana Allah.
{Ibnu mas'ud ra.}
Sesungguhnya Aku mengingatkan kepadamu supaya kamu tidak termasuk orang orang yang tidak berpengetahuan. ( QS. Hud ; 46 )
Sebaliknya , Ilmu adalah cahaya bagi hati nurani, kehidupan bagi ruh dan bahan bakar bagi tabiat.
Wasiat Rasulullah saw kepada Ali bin Abi Thalib r. a.
Wahai Ali, Bagi ahli ibadah itu ada 3 tanda-tandanya :
1. Mengawasi dirinya
2. Menghisab dirinya
3. Memperbanyak ibadah kepada Allah SWT
Jika kalian selesai membaca tasyahud akhir, hendaklah ia memohon perlindungan Allah atas empat perkara:
dari siksa neraka jahannam, dari siksa kubur, dari cobaan hidup dan mati, dan dari cobaan Al-Masih Ad-dajjal " (HR. Muslim)"
Menemukan Empat Hal di Empat Tempat:" Aku pernah mencari empat hal di dalam empat jalan, ternyata salah jalan. Namun aku justru menemukannya dalam empat hal yang lain.:
Pertama, aku mencari kekayaan dengan mengumpulkan harta benda, tapi aku tidak menemukannya. Ternyata aku temukan kekayaan itu pada sifat qana'ah (merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah SWT).Kedua, aku mendambakan hidup tenang pada harta benda yang melimpah, namun ia kutemukan di dalam harta yang sedikit.Ketiga, aku mencari kelezatan dengan mengejar kenikmatan, namun ia kutemukan pada badan yang sehat.Dan keempat, aku mencari rezeki di bumi, tapi ia kutemukan di langit"
(Syaikh Hamid Al-Laffaf rahimahullahDiambil dari majalah tarbawi ed:166 th 8, 9 Nov 2007M)
Dari Abu Hurairah r.a. dari Rasulullah salallahu alayhi wa sallam, beliau bersabda:"Apabila Allah mencintai seseorang, maka Allah memanggil malaikat Jibril dan berfirman: "Sesungguhnya Aku mencintai si fulan, maka cintailah dia. Kemudian Jibril mencintai orang itu dan berkata kepada penghuni langit: "Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah ia." Penghuni langitpun akhirnya mencintai orang itu. Setelah itu kecintaanya diteruskan kepada penghuni bumi. Dan apabila Allah membenci seseorang, maka Allah memanggil malaikat Jibril dan berfirman: Aku membenci si fulan, maka bencilah dia. Kemudian Jibril membenci orang itu. Setelah itu Jibril berkata kepada penghuni langit: Sesungguhnya Allah membenci si fulan, maka bencilah dia. Mereka membencinya. Kemudian kebenciannya tersebut diteruskan kepada penghuni bumi." [HR: Muslim]
Dari Aisyah r.a, berkata, saya mendengar RasulullahSaw. bersabda, "Sesungguhnya orang mukmin itu denganbudi pekertinya yang baik dapat mengejar derajat orangyang selalu berpuasa dan shalat malam." (Riwayat Abu Daud)
Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda, "Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke sorga." (Riwayat Muslim)
"Amal itu kerangka yang mati, dan ruhnya adalah keikhlasan yang ada padanya."
Ibn 'Atha'illah, Al-Hikam, No. 10, Hal. 29
Dari Abu Musa al-'Asy'ari r.a, katanya, Nabi MuhammadSaw berkata, "Setiap orang Islam berkewajiban untuk bersedekah." Para sabahat bertanya."Kalau tidak adaapa-apa ?" Rasul menjawab, "Ia berusaha dengan kedua tangannya, lalu ia mendapat manfaat bagi dirinya dania bersedekah." Mereka bertanya, "Kalau ia tidak sanggup, atau tidak melakukannya ?" Rasul menjawab,"Ia membantu orang yang menderita dan memerlukan bantuan." Mereka bertanya, "Kalau tidak dilakukannya?" Rasul menjawab, "Ia menyuruh melakukan kebaikan."Mereka bertanya, "Kalau ia tidak melakukannya ?"Beliau menjawab, "Ia menahan diri untuk tidakmelakukan kejahatan. Itu berarti sedekah baginya."(Riwayat Bukhari)
Dari Anas r.a berkata, saya mendengar Rasulullah Sawbersabda, "Allah ta'ala berfirman : "Wahai anak Adam,selama kamu berdo'a dan mengharap kepadaKu niscaya Aku ampuni dosa yang telah kamu lakukan dan Aku tidak memperdulikan berapa banyaknya. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu bagaikan awan di langit kemudian kamu minta ampun kepadaKu, niscaya Aku mengampunimu, dan Aku tidak mempedulikan berapa banyak dosamu. Wahai anak Adam seandainya kamu datangkehadapanKu dengan membawa dosa seisi bumi kemudian bertemu dengan Aku tanpa menyekutukan sesuatu apa pun denganKu, niscaya Aku mengampuni dosa yang seisi bumiitu." (Riwayat At Turmudzy)
Dari Abu Ayyub r.a bahwasanya Rasulullah Saw.bersabda, "Barangsiapa yang puasa pada bulan Ramadhan kemudian diikutinya dengan puasa enam hari dari bulan Syawal maka ia seperti puasa sepanjang tahun."(Riwayat Muslim)
Dari Ibnu 'Abbas r.a, dari Nabi Muhammad Saw yangdiriwayatkannya dari Tuhannya, beliau bersabda, Allahberkata, "Sesungguhnya Allah menuliskan semuakejahatan dan kebaikan, kemudian dijelaskannya: Siapa yang berniat melakukan satu kebaikan dan tidak dilaksanakannya, maka Allah menuliskan disisi-Nya untuk orang itu satu kebaikan yang sempurna. Kalau orang itu berniat melakukan suatu kebaikan dan hal itu dilaksanakannya, maka Allah menuliskan disisi-Nyauntuk orang itu sepuluh kebaikan sampai tujuh ratuskali lipat, sampai berlipat ganda. Siapa yang berniatmelaukan suatu kejahatan, tetapi tidak dilaksanakannya, maka Allah menuliskan disisi-Nya untuk orang itu satu kebaikan yang sempurna. Tetapi kalau ia berniat melakukan kejahatan dan dilaksakannya, maka Allah menuliskan disisi-Nya untuk orang itu, satu kejahatan." (Shahih Bukhari IV)
Dari Ibnu Mas'ud r.a berkata, Rasulullah Saw bersabda,"Maukah kamu sekalian aku beritahu tentang orang yang diharamkan untuk masuk neraka? Atau tentang orang yang mana neraka diharamkan padanya? Neraka itu diharamkan pada setiap orang yang mendekatkan diri kepada Allah,yang bersikap lemah lembut, lunak dan suka mempermudah. "
Ajarkanlah kebaikan kepada anak-anakmu dan didiklah mereka dengan budi pekerti yang baik." (HR. AbdurRazzaq & Said bin Mansyur)
Dari Ibu 'Abbas r.a, katanya, Nabi Muhammad Sawbersabda, "Ada dua nikmat yang sering kebanyakan manusia tertipu tentangnya (sering melupakannya) ,yaitu: waktu sehat dan waktu senggang." (ShahihBukhari IV no.1737)
Dari Amru bin Syu'aib r.a meriwayatkan dari ayahnya,dari kakeknya r.a bahwa Rasulullah Saw bersabda, "Jika salah seorang diantara kamu resah (menjelang) tidur,hendaklah ia mengatakan, 'Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari marah-Nya,hukuman-Nya, dan dari kejelekan hamba- hamba-Nya,serta dari berbagai godaan setan dan kehadirannya. 'Sesungguhnya setan sama sekali tidak akan membahayakannya. "(HR Abu Daud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa'i)
Rasulullah Saw bersabda, "Dalam tubuh manusia ada segumpal darah yang jika ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya. Namun jika rusak, rusak pulalah seluruh tubuhnya. Segumpal darah itu ialah hati."(HR Bukhari dan Muslim dari An-Nu'man bin Basyir)
Hendaknya kamu berhati-hati untuk berdusta.Sesungguhnya kedustaan itu membawa kepada kejahatan,dan kejahatan itu membawa ke neraka. Kalaulahseseorang itu terus menerus berdusta, dan memelihara kedustaan, maka ia digelari disisi Allah sebagai pendusta. (HR Muslim, Abu Daud, dan At-Tirmidzi)
Rasulullah Saw mengatakan bahwa kebencian dan kedengkian merupakan salah satu penyakit umat yang sangat berbahaya, dan sangat mempengaruhi agamanya. Beliau bersabda, "Manusia akan tetap berada di dalamk ebaikan selama dia tidak mempunyai rasa dengki."(Diriwayatkan oleh Thabrani)
( DR. Aidh al-Qarni)
Hati yang lurus Seseorang tidak bisa dipegang amanahnya sehingga lurus lisannya, dan dia tidak lurus lisannya sehingga lurus hatinya. (al Hasan al Bashri/Al Adab asy Syar'iyyah, Ibnu Muflih)
Orang alim itu bukanlah yang mengetahui kebaikan dari yang buruk, tetapi orang alim adalah yang mengetahui kebaikan lalu mengikutinya dan mengetahui keburukan lalu menjauhinya. (Sufyan bin Uyainah/ Az Zuhd, Imam Ahmad)
Tiga Perkara
"Ada tiga perkara pada diriku, aku tidak menyebutkannya kecuali supaya dapat diambil pelajaran, Pertama "Aku tidak mendatangi penguasa (sulthan) kecuali jika di undang, kedua, Aku tidak masuk pada dua orang kecuali setelah keduanya mempersilahkanku masuk diantara mereka, ketiga, tidaklah aku menyebutkan seseorang setelah dia pergi dari sisiku kecuali kebaikan-kebaikan." (Al Ahnaf bin Qais)
Imam Malik:
"Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa: aku terkadang berbuat salah dan terkadang aku benar. Oleh sebab itu, perhatikanlah pendapat-pendapatku: semua yang sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah, terimalah; dan semua yang tidak sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah, abaikanlah." - Ibn 'Abdul Barr in Jaami' Bayaan al-'Ilm (2/32)
********
Ibnu Umar r.a. pernah ditanya : "Apakah pakaian yang baik untuk dipakai?"
Yaitu : "Pakaian yang kiranya tidak dicemoohkan oleh orang yang budi pekertinya rendah dan tidak pula kiranya dicela oleh orang-orang yang bijaksana."
Orang itu bertanya lagi : "Jadi yang bagaimana?"
Jawabnya : "Yang sedang saja, terlalu murahpun tidak dan terlalu mahal pun tidak."
Akan datang kepada manusia suatu masa ketika kemanisan hati berubah menjadi masin. Sehingga pada hari itu, orang yang berilmu dan orang yang memepelajari ilmu tak dapat mengambil manfaat dari ilmunya. Maka hati orang-orang berilmu seumpama tanah kosong yang bergaram yang turun atasnya hujan dari langit maka tidak juga menjadi tawar. Iaitu, apabila condong hati orang berilmu kepada cinta dunia dan melebihkannya atas cinta akhirat, maka pada saat itu dicabutlah oleh Allah sumber-sumber hikmah dan dipadamkanlah lampu petunjuk dari hati mereka. Maka akan berceritalah kepadamu orang yang berilmu di antara mereka itu, ketika engkau menjumpainya bahawa ia takut kepada Allah dengan lisannya, sementara kezaliman jelas kelihatan pada amal perbuatannya. Alangkah suburnya lidah mereka dan tanduslah hati mereka ketika itu! Tidaklah terjadi yang demikian itu selain kerana para guru mengajar bukan kerana Allah dan para pelajar belajar bukan kerana Allah.
{Ibnu mas'ud ra.}
Sesungguhnya Aku mengingatkan kepadamu supaya kamu tidak termasuk orang orang yang tidak berpengetahuan. ( QS. Hud ; 46 )
Sebaliknya , Ilmu adalah cahaya bagi hati nurani, kehidupan bagi ruh dan bahan bakar bagi tabiat.
Wasiat Rasulullah saw kepada Ali bin Abi Thalib r. a.
Wahai Ali, Bagi ahli ibadah itu ada 3 tanda-tandanya :
1. Mengawasi dirinya
2. Menghisab dirinya
3. Memperbanyak ibadah kepada Allah SWT
Jika kalian selesai membaca tasyahud akhir, hendaklah ia memohon perlindungan Allah atas empat perkara:
dari siksa neraka jahannam, dari siksa kubur, dari cobaan hidup dan mati, dan dari cobaan Al-Masih Ad-dajjal " (HR. Muslim)"
Menemukan Empat Hal di Empat Tempat:" Aku pernah mencari empat hal di dalam empat jalan, ternyata salah jalan. Namun aku justru menemukannya dalam empat hal yang lain.:
Pertama, aku mencari kekayaan dengan mengumpulkan harta benda, tapi aku tidak menemukannya. Ternyata aku temukan kekayaan itu pada sifat qana'ah (merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah SWT).Kedua, aku mendambakan hidup tenang pada harta benda yang melimpah, namun ia kutemukan di dalam harta yang sedikit.Ketiga, aku mencari kelezatan dengan mengejar kenikmatan, namun ia kutemukan pada badan yang sehat.Dan keempat, aku mencari rezeki di bumi, tapi ia kutemukan di langit"
(Syaikh Hamid Al-Laffaf rahimahullahDiambil dari majalah tarbawi ed:166 th 8, 9 Nov 2007M)
Dari Abu Hurairah r.a. dari Rasulullah salallahu alayhi wa sallam, beliau bersabda:"Apabila Allah mencintai seseorang, maka Allah memanggil malaikat Jibril dan berfirman: "Sesungguhnya Aku mencintai si fulan, maka cintailah dia. Kemudian Jibril mencintai orang itu dan berkata kepada penghuni langit: "Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah ia." Penghuni langitpun akhirnya mencintai orang itu. Setelah itu kecintaanya diteruskan kepada penghuni bumi. Dan apabila Allah membenci seseorang, maka Allah memanggil malaikat Jibril dan berfirman: Aku membenci si fulan, maka bencilah dia. Kemudian Jibril membenci orang itu. Setelah itu Jibril berkata kepada penghuni langit: Sesungguhnya Allah membenci si fulan, maka bencilah dia. Mereka membencinya. Kemudian kebenciannya tersebut diteruskan kepada penghuni bumi." [HR: Muslim]
Dari Aisyah r.a, berkata, saya mendengar RasulullahSaw. bersabda, "Sesungguhnya orang mukmin itu denganbudi pekertinya yang baik dapat mengejar derajat orangyang selalu berpuasa dan shalat malam." (Riwayat Abu Daud)
Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda, "Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke sorga." (Riwayat Muslim)
"Amal itu kerangka yang mati, dan ruhnya adalah keikhlasan yang ada padanya."
Ibn 'Atha'illah, Al-Hikam, No. 10, Hal. 29
Dari Abu Musa al-'Asy'ari r.a, katanya, Nabi MuhammadSaw berkata, "Setiap orang Islam berkewajiban untuk bersedekah." Para sabahat bertanya."Kalau tidak adaapa-apa ?" Rasul menjawab, "Ia berusaha dengan kedua tangannya, lalu ia mendapat manfaat bagi dirinya dania bersedekah." Mereka bertanya, "Kalau ia tidak sanggup, atau tidak melakukannya ?" Rasul menjawab,"Ia membantu orang yang menderita dan memerlukan bantuan." Mereka bertanya, "Kalau tidak dilakukannya?" Rasul menjawab, "Ia menyuruh melakukan kebaikan."Mereka bertanya, "Kalau ia tidak melakukannya ?"Beliau menjawab, "Ia menahan diri untuk tidakmelakukan kejahatan. Itu berarti sedekah baginya."(Riwayat Bukhari)
Dari Anas r.a berkata, saya mendengar Rasulullah Sawbersabda, "Allah ta'ala berfirman : "Wahai anak Adam,selama kamu berdo'a dan mengharap kepadaKu niscaya Aku ampuni dosa yang telah kamu lakukan dan Aku tidak memperdulikan berapa banyaknya. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu bagaikan awan di langit kemudian kamu minta ampun kepadaKu, niscaya Aku mengampunimu, dan Aku tidak mempedulikan berapa banyak dosamu. Wahai anak Adam seandainya kamu datangkehadapanKu dengan membawa dosa seisi bumi kemudian bertemu dengan Aku tanpa menyekutukan sesuatu apa pun denganKu, niscaya Aku mengampuni dosa yang seisi bumiitu." (Riwayat At Turmudzy)
Dari Abu Ayyub r.a bahwasanya Rasulullah Saw.bersabda, "Barangsiapa yang puasa pada bulan Ramadhan kemudian diikutinya dengan puasa enam hari dari bulan Syawal maka ia seperti puasa sepanjang tahun."(Riwayat Muslim)
Dari Ibnu 'Abbas r.a, dari Nabi Muhammad Saw yangdiriwayatkannya dari Tuhannya, beliau bersabda, Allahberkata, "Sesungguhnya Allah menuliskan semuakejahatan dan kebaikan, kemudian dijelaskannya: Siapa yang berniat melakukan satu kebaikan dan tidak dilaksanakannya, maka Allah menuliskan disisi-Nya untuk orang itu satu kebaikan yang sempurna. Kalau orang itu berniat melakukan suatu kebaikan dan hal itu dilaksanakannya, maka Allah menuliskan disisi-Nyauntuk orang itu sepuluh kebaikan sampai tujuh ratuskali lipat, sampai berlipat ganda. Siapa yang berniatmelaukan suatu kejahatan, tetapi tidak dilaksanakannya, maka Allah menuliskan disisi-Nya untuk orang itu satu kebaikan yang sempurna. Tetapi kalau ia berniat melakukan kejahatan dan dilaksakannya, maka Allah menuliskan disisi-Nya untuk orang itu, satu kejahatan." (Shahih Bukhari IV)
Dari Ibnu Mas'ud r.a berkata, Rasulullah Saw bersabda,"Maukah kamu sekalian aku beritahu tentang orang yang diharamkan untuk masuk neraka? Atau tentang orang yang mana neraka diharamkan padanya? Neraka itu diharamkan pada setiap orang yang mendekatkan diri kepada Allah,yang bersikap lemah lembut, lunak dan suka mempermudah. "
Ajarkanlah kebaikan kepada anak-anakmu dan didiklah mereka dengan budi pekerti yang baik." (HR. AbdurRazzaq & Said bin Mansyur)
Dari Ibu 'Abbas r.a, katanya, Nabi Muhammad Sawbersabda, "Ada dua nikmat yang sering kebanyakan manusia tertipu tentangnya (sering melupakannya) ,yaitu: waktu sehat dan waktu senggang." (ShahihBukhari IV no.1737)
Dari Amru bin Syu'aib r.a meriwayatkan dari ayahnya,dari kakeknya r.a bahwa Rasulullah Saw bersabda, "Jika salah seorang diantara kamu resah (menjelang) tidur,hendaklah ia mengatakan, 'Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari marah-Nya,hukuman-Nya, dan dari kejelekan hamba- hamba-Nya,serta dari berbagai godaan setan dan kehadirannya. 'Sesungguhnya setan sama sekali tidak akan membahayakannya. "(HR Abu Daud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa'i)
Rasulullah Saw bersabda, "Dalam tubuh manusia ada segumpal darah yang jika ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya. Namun jika rusak, rusak pulalah seluruh tubuhnya. Segumpal darah itu ialah hati."(HR Bukhari dan Muslim dari An-Nu'man bin Basyir)
Hendaknya kamu berhati-hati untuk berdusta.Sesungguhnya kedustaan itu membawa kepada kejahatan,dan kejahatan itu membawa ke neraka. Kalaulahseseorang itu terus menerus berdusta, dan memelihara kedustaan, maka ia digelari disisi Allah sebagai pendusta. (HR Muslim, Abu Daud, dan At-Tirmidzi)
Rasulullah Saw mengatakan bahwa kebencian dan kedengkian merupakan salah satu penyakit umat yang sangat berbahaya, dan sangat mempengaruhi agamanya. Beliau bersabda, "Manusia akan tetap berada di dalamk ebaikan selama dia tidak mempunyai rasa dengki."(Diriwayatkan oleh Thabrani)
Langganan:
Postingan (Atom)



